Tuesday, November 7, 2006

Bioskop Jakarta yang akan dan sudah digusur



Mencermati Megaria yang akan digusur (?)Kita pantas terkenang masa lalu. Megaria dahulu bernama Metropole. Merupakan biskop diperuntukkan bagi golongan elite yang tinggal didaerah Menteng dan sekitar. Didirikan pada tahun 1949, dan terletak diarea cukup luas dipertigaan jalan Diponegoro dan Pegangsaan Jakarta pusat. Masih terbayang bagi generasi yang kini berumur 50 tahun keatas, kemegahan masa lalunya. Kita bisa nyaman berkunjung untuk pertunjukan jam 16.00, 19.00 dan 21.00. Bagi pengendara mobil pribadi, bisa memarkir mobilnya tanpa khawatir dijawab “parkir penuh”. Sebelum jam pertunjukan para calon penonton, dapat jalan2 melihat-lihat etalase toko2 dibawah. Dan bagi yang mau makan, diteras atas ada restoran. Restoran ayam bakar dibelakang rasanya baru ada pada tahun 70-an. Dibelakang situ masa lalu, masih dipakai parkir motor dan sepeda. Beli karcis bisa pada dua loket disebelah depan kiri dan kanan tangga. Tangga pintu masuk juga ada dua. Didepan dan samping kiri. Sesudah karcis disobek, penonton kelas loge dan balcon, langsung masuk pintu utama. Bagi penonton stales, lewat lorong samping. Lorong ini juga dipakai untuk pergi ketoilet. Dan kalau bioskop bubar, penonton keluar lewat samping kanan atau belakang. Ketika model teater 21, tentu saja kenyamanan masa lalu berubah. Kesan luasnya ruang bioskop ketika berdiri dipintu loge, juga tidak bisa dinikmati lagi. Bioskop bagi kelas menengah yang sudah tiada, adalah “Rex” dibilangan kramat bunder. Letaknya tidak beberapa jauh dari pintu kereta api Senen. Dahulu bioskop ini terhitung ramai dikunjungi, karena terletak dekat pusat perbelanjaan, hiburan dan lokalisasi pelacuran. Alhasil bertetangga dengan “Planet Senen”. Agak ke barat, dijalan Keramat Raya, kini masih berdiri tegak bisokop Keramat. Dahulu bernama “Grand”. Seperti Rex, Grand ramai dikunjungi penonton karena dicapainya mudah. Kalau kita naik opelet atau trem listrik, cukup stop dihalte dan jalan sedikit. Sebelum pertunjukkan, calon penonton bisa nyebrang jalan dan minum ice cream “Baltic atau Artic”. Restoran Baltic masih ada sekarang meskipun bentuknya mini. Keramat Raya 30-40 tahun yang lalu masih lengang. Paling-paling diramaikan oleh sepeda,beca dan Delman. Rasanya memang masalah bioskop Jakarta saat ini “miskin penonton

Pahlawan 10 November 1945 yang gugur di Ceram

Ketika sedang mencari buku diperpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UI, secara tidak sengaja saya menemukan buku “Koleksi Soe Hok Gie”. Siapa yang tidak kenal orang ini. Seorang sejarawan Fakultas Satra UI. Bahkan cerita dirinya difilmkan berjudul “Gie”. Saya langsung meminjam karena yakin buku ini ada apa-apanya. Judul buku “Sedjarah Bataljon Y”. Mula2 saya berpikir, mengapa Hok Gie mengkoleksi buku ini ?. Bukankah dia tendensius anti bentuk2 kemiliteran dan juga anti kekerasan. Ternyata dugaan saya tak salah. Buku ini antara lain mengkisahkan seorang pahlawan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dia adalah Mayor Abdullah yang gugur pada tgl 25 September 1950 dalam pendaratan di Negeri Angus Ceram Timur. Saat itu jabatannya komandan batalyon XVII Divisi Brawijaya. Dan keberadaannya dalam medan pertempuran, dalam rangka penumpasan pemberontakan RMS. Sebelum tahun 1945, pekerjaan Abdullah yang asal Gorontalo itu adalah sebagai “Tukang Beca”. Dirinya butah huruf sampai tahun 1947. Dan baru bisa membaca tulis atas bantuan istrinya. Tapi sebagai orang Auto Didact, Abdullah berhasil mencapai karirnya yang cukup tinggi yaitu komandan batalyon. Dalam peristiwa pertempuran Surabaya 1945, Abdullah bersama arek2 Surabaya lainnya, bertempur melawan serdadu asing. Saat itu mula2 bergabung dengan BKR Laut, kemudian menjadi TKR laut (belakangan TLRI) yang merupakan pasukan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Pangkalan VII yang bermarkas didaerah Tanggulangin. Pada tahun 1946, Abdullah memimpin pasukan yang diberi nama “Bajak Laut”. Pasukan ini mampu bertahan disebelah utara Sidoarjo. Dalam pertempuran disekitar Buduran-Sruni, Abdullah mampu memperlihatkan kecakapannya dan keberaniannya. Karena kemampuannya memimpin pasukan itulah pada April 1947, dia di-serahi memimpin barisan “Pelopor” dengan pangkat Kapten. Ketika TLRI direorganisir pada Maret 1948, Barisan Pelopor berubah menjadi “Depot Batalyon”. Markasnya juga pindah kesekitar Lawang. Sebagai komandan Abdullah naik pangkat menjadi Mayor. Berdasarkan dekrit wakil Presiden, September 1948, TLRI dilebur menjadi TNI. Dan Depot Batalyon, menjadi Batalyon XVII, Brigade I Divisi Brawijaya dibawah Kolonel Sungkono. Perlu diketahui, ketika berlangsung perundingan Linggajati Kapten Abdullah adalah pimpinan pasukan TLRI yang bertugas didaerah Kuningan.

Sunday, October 22, 2006

Sajak Pak Dirman

Sejak meletusnya peristiwa Madiun (September 1948), Pak Dirman sudah mulai menderita sakit. Para dokter tentara segera bertindak. Diantaranya Dr Supratiknya, Dr Salamoen, Dr Soewondo, Dr Soetarto, Dr Oetojo, dan Dr Soemadji. Diagnosa yang dibuat adalah Tuberculose. Sebagai tindak lanjut, dikonsulkan dokter spesialis, yaitu Prof.Dr Asikin Widjajakoesoemah dan Dr Sim Ki Ay (kemungkinan Pulmonoloog). Ternyata diagnosa dibenarkan. Pak Dirman dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Atas pertimbangan medis, diputuskan dilakukan operasi dengan tujuan mengistirahatkan paru2 yang sakit, (phrenecatomie). Operasi dilakukan oleh Dr Picauly disaksikan 3 dokter tentara, yaitu Dr Soewondo, Dr Koesnen dan Dr Soemantri. Setelah itu beberapa lama Pak Dirman dirawat dikamar IX bangsal Maria. Pada tanggal 11 November 1948, Panti Rapih merayakan ulang tahunnya yang ke 25. Pak Dirman berkenan membuatkan sajak, sebagai tanda terima kasihnya pada Rumah Sakit Bersejarah ini. Setelah kembali kerumah di Bintaran Yogya, tak beberapa lama, Agresi Militer Belanda II berlangsung. Pasca gerilya, November 1949, Pak Dirman kembali dirawat di Panti Rapih. Sejak itu kesehatan beliau tidak kunjung pulih 100 % sehat sampai akhir hayatnya pada tahun 1950.

Dwidjosewojo tokoh lembaga keuangan rakyat zaman kolonial

Ia bernama Mas Ngabehi Dwidjosewojo. Ikut mendirikan, dan pernah menjadi sekretaris PB Boedi Oetomo. Pada tahun 1912 Bersama kawan2 ia mendirikan “Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetera” di Magelang. Tujuannya adalah perjuangan kebangsaan dibidang sosial-ekonomi. Keprihatinan M. Ng. Dwidjosewojo amat besar atas nasib para guru bumiputera (pribumi) yang mengalami kesullitan pembeayaan hidup. Maka melalui AJB, kesulitan hidup ini bisa dibantu diatasi. Ketika didirikan AJB yang masih berdiri sampai sekarang dan ma-ju, bernama Onderlinge Levensverzekerings Mij Boemi Poetera dan anggotanya baru sebatas kalangan Perhimpunan guru2 orang Indonesia di Hindia Belanda. Dwidjosewojo men-cetuskan gagasannya pertama kali di Kongres Budi Utomo, tahun 1910. Dan kemudian terealisasi menjadi badan usaha sebagai salah satu putusan Kong-res pertama PGHB di Magelang tgl 12 Februari 1912 Tidak seperti perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang kepemilikannya hanya oleh pemodal tertentu, sejak awal pendiri-annya Bumiputera sudah menganut sistem kepemilikan dan kepenguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha “mutual” atau “usaha bersama”. Semua pemegang polis adalah pemilik perusahaan yang mempercayakan wakil2 mereka di Badan Perwakilan Anggota (BPA) untuk mengawasi jalannya perusahaan. Asas mutualisme ini, yang kemudian dipadukan dengan idealisme dan profesionalisme pengelolanya, merupakan kekuatan utama Bumiputera hingga hari ini. Hingga semester pertama 2005 Bumiputera mengkaryakan sekitar 18.000 pekerja, melindungi lebih dari 9.7 juta jiwa rakyat Indonesia, de-ngan jaringan kantor sebanyak 576 di seluruh Indonesia. Meskipun sejumlah perusahaan asing menyerbu dan masuk menggarap pasar domestik, AJB mampu tetap bertahan bahkan berkembang. Bahkan pada tahun 1989 mendirikan Bank Bumi Putera. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengungkapkan apa dan bagaimana keadaan lembaga keuangan ini, tapi sejarah berdiri AJB Boemi Poetera telah mengambarkan sebuah “semangat zaman” dalam kancah Kebangkitan Nasional. Tokoh Dwijosewojo tidak dipungkiri merupakan tokoh pergerakan Nasional dibanyak bidang yang pantas mendapat penghargaan.

AMSTERDAM GATE RIWAYATMU

Tidak tahun pasti kapan gapura antik ini pembangunannya, tapi tidak pelak ada hubungannya dengan pembangunan Kasteel Batavia. Karena Amsterdam Gate/Port sesungguhnya adalah pintu belakang Benteng Batavia ini. Pada abad ke 19 , Amsterdam Gate masih sangat terpelihara. Saat itu jalan belum diaspal sehingga setiap pagi dan sore perlu disiram de-ngan air. Dikiri kanan ada bangunan tambahan dan disepanjang jalan masuk ada taman yang dirawat rapi. Pada awal abad ke 20, bangunan samping sudah dibongkar sehingga bentiuk aslinya berubah (foto 1). Bangunan gapura ini sesungguhnya 2 lapis dengan hiasan ornamen pada bagian tertentunya. Dan diatas ada botol2 semen sebanyak 8 buah. Pada bagian muka ada dua cekungan diantara masing-masing dua pilar. Dan didalam cekungan inilah berdiam patung dewa Mars dan Minerva. Warnanya hitam. Kemungkinan bukan kuningan atau perunggu, tapi benar2 dari besi. Gapura Amsterdam saat itu sudah setengah terawat. Tampak dibelakang jembatan kereta api yang melintang (dibangun kemungkinan pada awal abad ke 20 juga). Dibawahnya adalah lorong menuju jalan Tongkol sekarang. Pada fot 2, tampak kalau gapura ini susdah sama sekali tidak terawat. Foto dibuat pada tahun 1949. Tampak patung besi sudah tidak ada. Banyak yang bilang dibongkar oleh tentara Jepang yang maksudnya dilebur untuk bikin senjata. Sebenarnya karena tempat asalnya masih ada dan bangunan ini tidak terlalu ruwet, peluang dibuat kembali oleh DKI amat besar. Bukankah ini akan menambah semarak untuk tujuan turis ?

Sunday, October 15, 2006

Mengenang 60 th perundingan Linggajati



Tgl 22 Oktober 1946 jam 5 sore (jam 17.00) bertempat di Pegangsaan Timur no.56 Jakarta mulailah dilangsungkan perundingan politik antara Indonesia dan Belanda. Mungkin sore itu seperti juga sekarang cuaca terasa panas dan kadang turun hujan rintik-rintik. Maka berhadapanlah dua delegasi. Belanda dipimpin Prof Ir Schermerhorn dan Indonesia dipimnpin Sutan Sjahrir. Perundingan politik ini dimaksudkan untuk membicarakan soal dekolonisasi bagi Indoneasia. Perundingan yang berlangsung ditempat kediaman Sjahrir ini, dipimpin oleh Schermerhorn. Jalannya perundingan antara lain sebagai berikut : Oleh kedua delegasi disadari Republik Indonesia sudah berdiri dan berdaulat. Tapi Belanda tidak bisa menerimanya begitu saja. Menghadapi ini semua Komisi Jenderal yang diketuai oleh mantan Perdana menteri Schermerhorn beranggapan, tidak ada gunanya membicarakan masalah ini secara parsial dan sebaiknya langsung dalam bentuk hasil akhirnya. Dengan demikian dicegah reaksi tidak perlu apabila dipahami gambarannya secara menyeluruh. Methoda perundingan disepakati untuk merumuskan tujuan akhir yang ingin dicapai, kemudian mundur kepada situasi saat itu. Hal ketiga yang diusulkan Schermerhorn, kedaulatan negara yang dikenal dalam dunia internasional pada masa lalu, telah berubah. Kini muncul ikatan-ikatan kerja sama antara negara2 yang mempengaruhi dan berkurangnya kedaulatan masing2. Maka dari itu bentuk baru ini seyogyanya diiktiarkan dan menjadi solusi antara Indonesia-Belanda. Perdana Menteri Sjahrir sebagai ketua delegasi Indonesia, menyampaikan buah pikirannya bahwa secara teoritis pendapat Schermerhorn dapat diterima. Tapi rakyat menginginkan hal yang lebih konkrit dan nyata. Mungkin saja perundingan dapat menghasilkan sebuah proyek yang hebat, tapi apa artinya kalau tidak disetujui rakyat ?. Sebuah kerja sama bisa saja dicobakan, tapi perlu disadari bahwa rakyat Indonesia merasa mampu mengatasi nasibnya sendiri dengan kekuatan sendiri. Anggota yang lain yaitu Mr Roem mengusulkan agar yang dipaparkan oleh Schermerhorn dituangkan dalam bentuk tertulis sehingga bisa dipelajari bersama. (Saat itu belum dibuat draft perundingan Linggajati seperti yang dikenal saat ini). Rupanya de Boer sependapat dengan Sjahrir bahwa rakyat harus mendapat kejelasan bentuk kerja sama Indonesia-Belanda dimasa datang. Hal ini dipertegas oleh van Poll adanya kepastian mutlak orang Indonesia akan menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri. Namun tanpa meninggalkan bentuk kerja sama dikedua bangsa. Sjahrir me-ngingatkan kenyataan rakyat merasa Belanda tidak mempunyai niat yang jelas. Oleh karena itu harus dibuktikan bahwa kemungkinan2 yang diajukan cukup realistis,

Tuesday, October 3, 2006

Mas Marco tokoh pergerakan yang wartawan

Mas Marco Kartodikromo, lahir di Cepu, sekitar tahun 1890. Berbeda dengan kebanyakan tokoh zaman itu yang berdarah priyi, bapaknya hanya seorang priyayi rendahan, yang sehari-hari mencari nafkah dengan bertani. Pada awal tahun 1905 Marco bekerja sebagai juru tulis Dinas Kehutanan. Tapi tak lama. Kemudian ia pindah ke Semarang dan menjadi juru tulis kantor Pemerintah. Di sana ia belajar bahasa Belanda dari seorang Belanda. Tahun 1911, setelah pandai berbahasa Belanda ia meninggalkan Semarang dan menuju Ban-dung. Di Bandung ia bergabung dengan pe-nerbitan Surat Kabar Medan Prijaji pimpinan Tirto Adhi Soeryo. Saat itu, Medan Prijaji sedang berada di puncak kegemilangan. Pada Tirto Adhi Soeryolah dia berguru. Yang dipelajari bukan hanya ilmu jurnalistik, tapi juga tentang organisasi modern. Pada tahun 1913, media pribumi dengan oplah besar itu bangkrut, diikuti dibuangnya Tirto Adhi Soeryo ke Maluku. Hal ini sempat membuat semangat Mas Marco mundur. Terlebih lagi tak lama kemudian mendengar gurunya itu meninggal dunia. Pada usia 22 tahun, Mas Marco pindah ke Surakarta dan mendirikan surat kabarnya sendiri, berjudul “Doenia Bergerak”. Disamping itu ia juga mendirikan Ikatan Wartawan Hindia (Inlandshe Journalistenbond atau IJB) di Surakarta pada pertengahan 1914. Dunia Bergerak merupakan Surat Kabar pergerakan yang anti Kolonial. Isinya hampir kerap menyerang kebijakan Pemerintah, sehingga akibatnya tidak heran kalau Mas Marco yang juga pimpinan redaksinya keluar masuk penjara. Pada tahun yang sama terjadi perkembangan baru dalam pergerakan politik. Sebelum mengakhiri tugasnya Gubernur Jenderal AWF Idenburg (1909-116) telah berkenan menyetujui Sarekat Islam sebagai “Badan Hukum”. Padahal sejak diajukan permohonan pertama kali pada tanggal 14 September 1914, Pemerintah Kolonial selalu menolaknya. Jasa baik Gubernur Jenderal ini ternyata menuai badai. Pertama, tibulnya kritik para Kolonialis, termasuk sejumlah besar Pangreh Praja. Yang kedua, sesuai dengan dibentuknya C.S.I (Centrale Sarekat Islam) yang diyakini pada mulanya bisa mengerem gerakan radikal cabang2, ternyata tidak berhasil bahkan telah terjadi apa yang dinamakan “Peristiwa Jambi”. Yaitu pada November 1914, dalam distrik Lubuk Gaung wilayah Bangko, dibentuk komplotan yang terdiri dari anggota S.I dengan tujuan membunuh kontroleur WG Moggenstorm. Usaha ini berhasil digagalkan kepolisian. Di Surakarta Mas Marco aktif dalam dunia pergerakan. Sesuai perkembangan yang terjadi termasuk perpecahan S.I, Marco memilih organisasi P.K.I. (Dari berbagai suber).