Para pemuda zaman sekarang sering bertanya, bagaimana pemuda dizaman perjuangan dahulu ? Maka saya memperlihatkan foto-foto koleksi yang saya miliki seperti diatas. Foto ini saya dapat tentu saja dari para pelaku yang kebanyakan sudah tiada. Pada gambar ini adalah pasukan SWK (Sub Wehr Kreise) 106 didaerah Solo. Tampak pakaian dinas militer, peci model prahu (muts) berwarna hitam, senjata ringan sampai berat yang dimiliki dan tentu saja sepatu yang cukup lumayan. Tidak sedikit yang pasang gaya dengan topi baja atau baret. Tapi yang pasti mereka adalah yang muda yang bergerilya dan gembira. Banyak dari mereka yang setelah pengakuan kedaulatan 1949, kemudian kembali ke sekolah atau melanjutkan ke Universitas. Tidak sedikit yang kemudian berhasil meraih titel sarjana.
Tuesday, August 11, 2009
Yang muda yang bergerilya
Para pemuda zaman sekarang sering bertanya, bagaimana pemuda dizaman perjuangan dahulu ? Maka saya memperlihatkan foto-foto koleksi yang saya miliki seperti diatas. Foto ini saya dapat tentu saja dari para pelaku yang kebanyakan sudah tiada. Pada gambar ini adalah pasukan SWK (Sub Wehr Kreise) 106 didaerah Solo. Tampak pakaian dinas militer, peci model prahu (muts) berwarna hitam, senjata ringan sampai berat yang dimiliki dan tentu saja sepatu yang cukup lumayan. Tidak sedikit yang pasang gaya dengan topi baja atau baret. Tapi yang pasti mereka adalah yang muda yang bergerilya dan gembira. Banyak dari mereka yang setelah pengakuan kedaulatan 1949, kemudian kembali ke sekolah atau melanjutkan ke Universitas. Tidak sedikit yang kemudian berhasil meraih titel sarjana.
Monday, August 10, 2009
Film Merah Putih

Untuk Sang Merah Putih

Pasukan Pengawal Presiden RI tahun 1945

Saturday, May 9, 2009
Seniman Indonesia tahun 1945 (bagian II)
Seniman Indonesia tahun 1945

Friday, May 8, 2009
Memperingati 60 th Konferensi Meja Bundar (23 Agustus 1949-23 Agustus 2009)
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia, BFO (Permusyawaratan Negara Federal) dan Kerajaan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Delegasi Indonesia (RI dan BFO) dipimpin oleh Mohamad Hatta. Konferensi Meja Bundar terkait karena usaha untuk meredam kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan berakhir dengan kegagalan. Belanda mendapat kecaman keras dari dunia internasional. Belanda dan Republik Indonesia kemudian mengadakan beberapa pertemuan untuk menyelesaikan masalah ini secara diplomasi, lewat perundingan Linggajati, perjanjian Renville, pernyataan Roem-van Roijen, dan Konferensi Meja Bundar. Hasil Konferensi Meja Bundar antara lain, serahterima (overdracht) kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat kecuali pulau Irian bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan pulau Irian bagian barat sebagai negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Pulau Irian bagian barat bukan bagian dari serahterima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun. Kemudian akan dibentuknya sebuah persekutuan Indonesia dan Belanda bernama UNI Indonesia-Belanda, dengan Baginda Ratu Belanda sebagai kepala UNI. Terakhir, pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat. Tahun ini (2009) seyogyanya diadakan peringatan ke 60 Konferensi Meja Bundar. Mengapa ? Karena senang atau tidak senang, mau atau tidak mau, kenyataannya dalam penyerahan kedauylatan 27 Desember 1949, Republik Indonesia Serikat merupakan periode yang tidak terpisahkan dengan sejarah nasional kita. Dan Presiden pertama RI, Soekarno merupakan Prtesiden yang diakuai dunia saat itu (wakil PBB dalam UNCI, merupakan representasi dunia yang terlibat dan hadir dalam Konperensi Meja Bundar maupun penyerahan kedaulatan itu 27 Desember 1949).
