Tuesday, August 11, 2009

Yang muda yang bergerilya

Para pemuda zaman sekarang sering bertanya, bagaimana pemuda dizaman perjuangan dahulu ? Maka saya memperlihatkan foto-foto koleksi yang saya miliki seperti diatas. Foto ini saya dapat tentu saja dari para pelaku yang kebanyakan sudah tiada. Pada gambar ini adalah pasukan SWK (Sub Wehr Kreise) 106 didaerah Solo. Tampak pakaian dinas militer, peci model prahu (muts) berwarna hitam, senjata ringan sampai berat yang dimiliki dan tentu saja sepatu yang cukup lumayan. Tidak sedikit yang pasang gaya dengan topi baja atau baret. Tapi yang pasti mereka adalah yang muda yang bergerilya dan gembira. Banyak dari mereka yang setelah pengakuan kedaulatan 1949, kemudian kembali ke sekolah atau melanjutkan ke Universitas. Tidak sedikit yang kemudian berhasil meraih titel sarjana.

Monday, August 10, 2009

Film Merah Putih


Sebentar lagi kita bisa menonton sebuah film Epos Perang Kemerdekaan berjudul "Merah Putih". Film yang dibuat PT Media Desa boleh diacungkan jempol karena berani membuat film perjuangan dengan beaya besar. Kritikan pasti akan berdatangan karena film dibuat dengan seting sebuan kesatuan tentara yang sudah amat sempurna dalam pencitraan visualnya. Bagus sekali dilihat dari tenik pengambilan gambar maupun jalan ceritanya. Tapi bagi yang tahu bagaimana situasi kondisi tentara kita pada periode 1945-1949 film ini bagaikan bercerita dinegara lain. Untuk lengkapnya lihat http://www.youtube.com/watch?v=vAB_RPzA0Og. Foto atas adalah poster film Merah Putih yang bagus itu dan disebelah kanan foto Ipphos kira-kira pada bulan September tahun 1946. Peristiwanya "Parade pada upacara pembentukan Badan Kelaskaran Pusat di Yogyakarta". Foto macam ini cuma bisa dilihat di Museum barangkali.

Untuk Sang Merah Putih


Pada tahun 50-an ada film yang dibuat kalau tidak salah oleh PERFINI. Judulnya "Untuk Sang Merah Putih" pemeran utamanya Chatir Charo. Dalam film, Sutradara Usmar Ismail juga mementaskan konflik-konflik sosial dalam kancah Revolusi Kemerdekaan. Tahun 2009 dalam rangka menyambut Kemerdekaan Indonesia ke 64, diputar film "Merah Putih" yang kemungkinan juga memunculkan konflik sosial pada zaman perang kemerdekaan. Mampukah film Merah Putih 2009 ini mewakili semangat zaman saat itu ? Kita lihat saja bagaimana reaksi masyarakat menanggapi atau mengkritisi film ini. Mungkin yang penting, janganlah kita memadamkan semangat baru para produser ini untuk mengangkat film-film perjuangan kontemporer itu. Keterangan gambar : atas, foto yang dibuat tahun 1949 ketika pasukan Tentara Pelajar dibawah Brigade 17 memasuki kota Purwokerto dari Medan Gerilya. Tampak wajah mereka begitu muda tapi penuh semangat. Foto bawah, salah satu adegan dari film Merah Putih. Pakaian dinasnya bagus ya. Pake dasi lagi. Saya yakin semangat untuk mensukseskan film inipun juga besar

Pasukan Pengawal Presiden RI tahun 1945


Menurut Soediro (mantan Walikota Jakarta tahun 50-an), Setelah Proklamasi, dr Muwardi memilih sejumlah juru pencak silat dibawah pimpinan Sumartojo. Dengan hanya bersenjata golok dan bambu runcing, dimulailah kegiatan Pengawalan Presiden RI, Soekarno. Foto ini ada dikoleksi Museum Bronbeek Belanda. Penjelasannya, menggambarkan para Pas.Wal.Pres tahun 1945 dimuka Rumah Proklamasi, jalan Pegangsaan Timur (kini jalan Proklamasi) no.56 Jakarta. Mungkinkah mereka itu yang disebut dalam bukunya Soediro "Sekitar Proklamasi". Kalau benar, seyogyanya mereka ini mendapat bintang jasa pemerintah.

Saturday, May 9, 2009

Seniman Indonesia tahun 1945 (bagian II)

Jadi ini memang peristiwa ketika seniman dari kelompok Gelanggang Seniman Merdeka sedang kumpul-kumpul disebuah tempat di Jakarta. Dalam kesempatan ini Baharudin membuat lukisan untuk Asrul Sani. Foto dibuat oleh Charles Breijer dan kini menjadi milik Foto Museum di Belanda.

Seniman Indonesia tahun 1945


Saya menulis pada hari Selasa, tgl 5 Mei, 2009 untuk HISTORIA-INDONESIA soal gambar diatas keterangannya : "Inilah wajah para seniman 1945 di Jakarta. Berdiri, Rivai Apin dan Chairul Anwar. Duduk, Burhanudin dan Henk Ngantung". Ada yang bisa mengkoreksi ? Kemudian, diperbaiki oleh Pak Ibrahim Isa : "Sudah cocok. Ingat saja nama penyair kita itu bukan CHAIRUL ANWAR, tetapi C H A I R I L ANWAR. Jadi CHAIRIL bukan CHAIRUL". Kemudian diperbaiki lagi oleh Pak Salim Said : "Yang duduk itu bukan Burhanuddin, tapi Baharuddin. Pak Bahar terakhir jadi dosen seni rupa IKJ dan meninggal sekian tahun silam. Yang berdiri nampaknya bukan chairul tapi Asrul Sani".

Friday, May 8, 2009

Memperingati 60 th Konferensi Meja Bundar (23 Agustus 1949-23 Agustus 2009)

Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia, BFO (Permusyawaratan Negara Federal) dan Kerajaan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Delegasi Indonesia (RI dan BFO) dipimpin oleh Mohamad Hatta. Konferensi Meja Bundar terkait karena usaha untuk meredam kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan berakhir dengan kegagalan. Belanda mendapat kecaman keras dari dunia internasional. Belanda dan Republik Indonesia kemudian mengadakan beberapa pertemuan untuk menyelesaikan masalah ini secara diplomasi, lewat perundingan Linggajati, perjanjian Renville, pernyataan Roem-van Roijen, dan Konferensi Meja Bundar. Hasil Konferensi Meja Bundar antara lain, serahterima (overdracht) kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat kecuali pulau Irian bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan pulau Irian bagian barat sebagai negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Pulau Irian bagian barat bukan bagian dari serahterima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun. Kemudian akan dibentuknya sebuah persekutuan Indonesia dan Belanda bernama UNI Indonesia-Belanda, dengan Baginda Ratu Belanda sebagai kepala UNI. Terakhir, pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat. Tahun ini (2009) seyogyanya diadakan peringatan ke 60 Konferensi Meja Bundar. Mengapa ? Karena senang atau tidak senang, mau atau tidak mau, kenyataannya dalam penyerahan kedauylatan 27 Desember 1949, Republik Indonesia Serikat merupakan periode yang tidak terpisahkan dengan sejarah nasional kita. Dan Presiden pertama RI, Soekarno merupakan Prtesiden yang diakuai dunia saat itu (wakil PBB dalam UNCI, merupakan representasi dunia yang terlibat dan hadir dalam Konperensi Meja Bundar maupun penyerahan kedaulatan itu 27 Desember 1949).