Halo para pembaca semua akhirnya kita bertemu lagi di artikel kali ini. Selamat tahun baru buat para pembaca semua meski memang agak terlambat. Mudah-mudahan di era tahun 2012 ini kita dapat lebih maju di segala hal terutama masalah beribadah kepada Allah SWT.
Baiklah kali ini saya akan membahas tentang masa-masa pemerintahan Islam dahulu. Dimana pada artikel kali ini saya akan membahas tentang masa pemerintahan di masa Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya saya akan membahas sedikit tentang profil beliau.
Nabi Muhammad SAW dilahirkan di kota Mekkah, kota yang sangat terkenal di dunia hingga sampai saat ini menjadi tempat para umat Islam melaksanakan ibadah Haji hingga saat ini. Beliau lahir tahun 570 M dimana tahun itu bertepatan dengan kegagalan Abrahah, sang penguasa Yaman yang ingin menyerang Ka'bah akibat kemarahannya karena Gerejanya dicorat-coret oleh kotoran manusia yang setelah diselidiki adalah orang gila yang berasal dari Mekkah.
Hal inilah yang menyebabkan Abrahah menyerang kota Mekkah, tepatnya ingin menyerang Ka'bah, tempat peribadahan umat Islam untuk melaksanakan Haji. Abrahah datang dengan pasukan gajah lengkap dengan senjata yang canggih di masa itu. Abdul Muthalib (Kakek Muhammad) selaku ketua suku Quraisy yang letaknya berdekatan dengan Ka'bah memerintahkan semua suku Quraisy untuk mengungsi karena jika melawan pasukan Abrahah sama saja dengan menyerahkan nyawa. Abdul Muthalib berkata kepada semua penduduk "Segeralah cepat mengungsi. Kita tidak mungkin melawan pasukan Abrahah yang begitu banyak. Kita Serahkan saja kepada Tuhan yang menguasai Ka'bah ini"!
Ketika pasukan Abrahah sudah datang ke dekat Ka'bah beliau melihat tidak ada yang penduduk Quraisy yang memberikan perlawanan bahkan rumah-rumah mereka sudah kosong. Akhirnya Abrahah memerintahkan kepada tentara bergajahnya untuk segera menghancurkan Ka'bah. Tetapi anehnya gajah-gajah Abrahah tidak mau melaksanakan perintah itu. Mungkin gajah-gajah itu sudah mengetahui bahwa yang diperintahkan Abrahah adalah perbuatan yang sangat jahat. Saking geramnya dengan gajah-gajahnya yang tidak mau menurut kepadanya, Abrahah memukul gajahnya dengan pentungan. Tentu saja gajahnya berteriak dan melemparkan Abrahah dengan belalainya ke tanah. Untungnya Abrahah hanya sedikit terluka. Abrahah pun semakin heran melihat kelakuan gajah-gajahnya.
Akhirnya sesuai dengan bunyi Al-Fiil ayat 1-6, datanglah burung-burung Ababil yang membawa batu-batu yang terbakar kemudian dilemparkan ke atas mereka. Tentu saja mereka terluka bahkan lama-lama satu persatu pasukan Abrahah mati. Abrahah yang menyaksikan kejadian itu segera lari dari tempat kejadian dengan kondisi terluka namun terlambat beliau dilempari terus hingga tewas dalam perjalanan pulang ke Yaman. Tidak ada yang selamat dalam kejadian itu.
Setelah pasukan Abrahah tewas semua. Kembalilah pengungsi-pengungsi Quraisy ke kampung halamannya dan melihat pasukan-pasukan Abrahah yang tewas. Dan semua penduduk heran terutama Abdul Muthalib yang menyaksikan Ka'bah tetap kokoh berdiri. Dia pun berkata, "Ini semua berkat dari Tuhan pemilik Ka'bah ini yang melindungi Ka'bahnya sehingga tetap berdiri dengan kokoh"! Lalu penduduk Quraisy mulai membersihkan mayat-mayat tentara Abrahah. Beberapa lama kemudian lahirlah Muhammad pada tanggal 20 April 570 M (meski ini tanggal yang belum pasti). Tetapi sayangnya sang ayah, Abdullah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan ketika melakukan perjalanan dagang di Madinah, yang dulu bernama Yatsrib.
Setelah berumur 6 tahun ibunya, Aminah mengajak Muhammad untuk mengunjungi keluarganya serta makam Ayahnya di Yatsrib. Sekembalinya pulang ke Mekkah, dalam perjalanan Ibunya Aminah menderita sakit dan beberapa hari kemudian meninggal di desa 'Abwa yang terletak tidak jauh dari Yatsrib. Akhirnya beliau diasuh oleh kakeknya sekaligus kepala suku Quraisy, Abdul Muthalib. Seiring berjalan waktu umur kakenya semakin lanjut dan kakeknya memerintahkan paman Muhammad, Abu Thalib untuk mengasuh dan melindungi Muhammad dari segala macam bahaya. Tidak berapa lama kemudian kakeknya pun meninggal. Akhirnya segala tanggung jawab Muhammad menjadi tanggungan Abu Thalib, sang Paman.
Setelah itu, Muhammad disuruh untuk menggembalakan kambing-kambingnya di sekitar Mekkah dan juga selalu menemani Pamannya pergi berdagang ke negeri Syam (Suriah, Lebanon, Palestina). Setelah beberapa kali ikut dalam perjalanan dagang, Abu Thalib beserta Muhammad bertemu dengan seorang pendeta Kristen bernama Bushra yang masih memegang kitab Injil yang asli. Dia melihat Muhammad dengan perasaan heran, sebab ciri-ciri Muhammad sangat cocok dengan kisah Nabi terakhir dalam kitab Injilnya yang masih asli tersebut. Beliau pun berbicara dengan Abu Thalib agar segera membawa pulang anak ini karena dikhawatirkan orang-orang Yahudi akan membunuh anak ini sebab mereka sedang mencari-cari Nabi terakhir yang dikabarkan dalam Injil yang asli berasal dari bangsa Arab. Mereka kesal karena Nabi terakhir tersebut bukan dari bangsa mereka. Itulah sampai sekarang orang Yahudi selalu memusuhi Islam.
Setelah kejadian itu, Abu Thalib bertambah senang kepada Muhammad dan membawanya kembali pulang ke Mekkah. Setelah menjadi remaja dan mulai beranjak dewasa beliau mempelajari ilmu bela diri dan kemampuan memanah dan berkuda. Begitu juga dengan keterampilan beliau dalam hal berdagang. Hal inilah yang membuat kemampuan dagangnya semakin bertambah dan kejujurannya dalam berdagang. Akhirnya Muhammad pun dipercaya menjadi seorang agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah
Akhirnya kejujuran beliau pun diketahui oleh seorang Janda kaya yang bernama Khadijah. Sebagai seorang pedagang, ia juga sering mengirimkan barang dagangan ke seluruh pelosok Arab. Reputasi Muhammad yang baik menjadikan Khadijag untuk mempercayakan barang dagangannya untuk dijual dan dijanjikan akan dibayar dua kali lipat. Khadijah pun sangat gembira melihat Muhammad pulang dengan hasil dagang yang lebih dari yang biasanya.
Seiring waktu Muhammad akhirnya jatuh cinta kepada Khadijah, pada waktu itu berumur umur Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berumur 40 tahun tetapi kecantikan Khadijah masih memika Muhammad. Akhirnya mereka menikah meski perbedaan umur dan status yang jauh tetapi tidak menjadi halangan bagi mereka untuk melangsungkan pernikahan. Tentu saja sejak menikah dengan Khadijah, kekayaan Muhammad menjadi semakin bertambah. Tetapi Muhammad tetap hidup sederhana. Ia menggunakan hartanya untuk hal-hal yang penting saja.
Ketika Muhammad berusia 35 tahun, banjir besar melanda Ka'bah dan akibatnya Hajar Aswad pun lepas dari tempatnya. Pada saat itu pemuka-pemuka Quraisy berdebat tentang siapa yang meletakkan Hajar Aswad itu ke tempatnya kembali. Muhammad datang dan mengatakan, "Lebih baik kita putuskan barang siapa yang duluan datang ke Masjidil Haram, maka dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad itu kembali. Setelah dilaksanakan ternyata Muhammad juga yang pertama kali datang ke Masjidil Haram. Akhirnya para pemuka Quraisy menyerah dan menyerahkan peletakan Hajar Aswad kepada Muhammad.
Namun Muhammad tetap bersikap bijaksana. Beliau mengeluarkan sorbannya dan memerintahkan para pemuka Quraisy agar memgang tiap-tiap sudut sorbannya dan Hajar Aswad diletakkan di tengah. Muhammad lalu mengangkat Hajar Aswad tersebut dan menaruhnya kembali ke tempat asalnya. Para pemuka Quraisy akhirnya tersenyum lega dan sangat puas dengan kebijakan Muhammad. Beliau pun dijuluki Al-Amin artinya "orang yang dapat dipercaya".
Pada umur 40 tahun, Muhammad diangkat menjadi Nabi yang terakhir pada tanggal 17 Ramadhan/6Agustus 611 M. Dikisahkan penurunan wahyu kepada Rasulullah terjadi ketika beliau sedang bertapa di Gua Hira Peristiwa pengangkatan sebagai Nabi sekaligus juga sebagai penurunan Alqur'an pertama yaitu Al 'Alaq 1-5. Setelah menerima wahyu tersebut, beliau pun langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah badannya langsung panas-dingin akibat menerima wahyu tersebut. Dan oleh istrinya, Khadijah langsung diselimuti suaminya yang tampak sangat pucat tersebut. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad untuk menemui saudara sepupunya yang juga beragama Nasrani, Waraqah bin Naufal. Waraqah banyak mengetahui nubuat Nabi terkahir dari kitab suci Agama Nasrani dan Yahudi yang masih asli.
Setelah mendengar berita dari Waraqah, Muhammad beserta istrinya, Khadijah mengucapkan terima kasih dan pulang ke rumah.
Setelah itu, Muhammad dengan secara sembunyi-sembunyi mulai mengajarkan agama Islam yang diwahyukan kepadanya. Orang-orang yang pertama kali mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW diantaranya adalah : Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash Shiddiq, Bilal bin Rabah, Zaid bin Haritsah dan juga Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW juga. Pada waktu pengikutnya masih sedikit, Rasullullah dan para pengikutnya setiap malam berkumpul di rumah Arqam.
Ketika pada awal tahun 613 M, barulah Nabi Muhammad SAW menyiarkan agama Islam secara terang-terangan karena Umar bin Khattab, (pada waktu itu baru masuk Islam) langsung menyuruh Muhammad untuk menyiarkan agama Islam secara terang-terangan. Hal ini dapat dimaklumi karena Umar bin Khattab di masa dulunya dijuluki "Singa Padang Pasir" oleh karena sifatnya sangat keras, tegas dan tidak takut terhadap siapapun. Karena terus didesak oleh Umar dan Hamzah, akhirnya beliau pun bersedia untuk menyebarkan agama Islam secara terang-terangan.
Berbagai reaksi dari masyarakat Quraisy muncul. Ada yang senang dan ada yang tidak senang. Yang masuk Islam pada waktu itu adalah tokoh-tokoh besar seperti : Abdurrahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Ustman bin Affan dan lain-lain. Tetapi tokoh-tokoh yang tidak senang dengan ajaran tersebut seperti Umayyah bin Khalaf yang menyiks Bilal bin Rabah, budaknya karena masuk Islam. Bilal pun akhirnya dimerdekakan oleh Abu Bakar. Serta Abu Jahal dan paman Muhammad juga, Abu Lahab dan tokoh Quraisy lainnya, seperti Abu Sufyan. Mereka-mereka inilah yang selalu menindas umat Islam bahkan Nabi Muhammad pun hampir saja dibunuh. Namun Allah mengetahui rencan itu dan menyelamatkan Nabi Muhammad.
Meskipun mendapat perlakuan yang semena-mena dari kaum Quraisy tetapi pengikut Muhammad semakin banyak saja. Pengikutnya menyebarkan agama Islam melalui perdagangan ke Syam, Persia. Banyak yang datang langsung ke Mekkah dan Madinah (kota hijrah Muhammad dan pengikutnya) untuk mengetahui ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW. Salah satu pengikut Muhammad berasal dari Persia, yaitu seorang Ilmuwan bernama Salman Al-Farisi yang kemudian menjadi sahabat Muhammad SAW.
Karena penyiksaan kepada Muhammad dan para pengikutnya semakin menjadi-jadi, turunlah wahyu kepada Muhammad untuk berhijrah dari kota Mekkah. Banyak pengikut Islam berhijrah ke Habsyah (sekarang Ethiopia) karena Raja waktu itu, Negus mempersilahkan untuk berhijrah ke negaranya dan akan melindunginya. Muhammad pun pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah) dengan pengikutnya yang dari Mekkah maupun dari Habsyah.
Demikian yang dapat saya ceritakan. Mohon maaf bila ada kesalahan kata-kata Segala kritik silahkan beri komentar di bawah ini. Terima Kasih
Friday, January 6, 2012
Wednesday, December 28, 2011
Jozef Cleber dan lagu Indonesia Raya
Jozef Cleber atau juga sering hanya ditulis Jos Cleber (lahir di Maastricht, 2 Juni 1916 – meninggal di Hilversum, Belanda, 21 Mei 1999 pada umur 82 tahun) adalah musisi (konduktor) berkebangsaan Belanda yang datang tahun 1949 di Indonesia atas kerjasama Pemerintah Belanda dan Indonesia dalam rangka mengembangkan musik di Indonesia.
Ia adalah anak bungsu dari delapan anak Gerardus Josephus Cleber, seorang pemain orgel dan konduktor paduan suara, ibunya Anna Maria Bastian. Ia dilahirkan sebagai keluarga Katolik. Pada tahun 1939 ia kawin dengan Elisa Magdelijns (1917-2007), mempunyai seorang anak perempuan (Yvonne Charlotte). Namun tahun 1951 kemudian bercerai dan kawin lagi tahun 1951 itu juga di Jakarta dengan Johanna Dirkje de Bruijn (lahir 1923) yang bertemu di Radio Batavia ( RRI Jakarta) dan mempunyai seorang anak perempuan juga (Karian).
Ia mempunyai bakat musik yang luar biasa, dan belajar musik dari ayahnya. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama, ia masuk Sekolah Musik Atas (muzieklyceum), dan melanjutkan belajar biola dan piano pada konservatorium di kota Luik (Belgia). Ia juga belajar musik jazz, dan pengagum Duke Elington, dan disarankan belajar saxophone dan klarinet, namun trombone adalah alat musik pilihannya (yang katanya mouthpiece trombone sesuai dengan bibirnya). Pada usia 15 tahun (1931) ia sudah bermain pada Maastrichtsch Stedelijk Orkest (orkes kota) sebagai pemain biola alto. Kemudian ia bermain pada orkes Paul Godwin, dan kemudian pada waktu dinas militer tahun 1939 main di Tonhalle Orchester Zürich. Setelah usai Perang Dunia II ia kembali ke Belanda dan bekerja sebagai pemain trombone dan biola di 'Tuschinski-Theater' di bawah pimpinan musikus Max Tak, kemudian atas bantuan musikus ini ia bekerja sebagai trombonis pada Orkes Pop AVRO pimpinan Elzard Kuhlman (AVRO = Algemeene Vereeniging Radio Omroep / Radio Penyiaran Negeri Belanda). Kemudian tahun 1942 ia bekerja sebagai trombonis pada Concertgebouw-Orkest (sebuah orkes besar di Gedung Konser Amsterdam yang terkenal hingga kini). Selain itu ia juga belajar dirigen, ilmu harmoni dan kontrapun dari komponis Kees van Baaren di Amsterdam. Kemudian ia bertemu dengan Theo Uden Masman, seorang pimpinan orkes dansa di Hilversum. Tidak lama kemudian ia bergabung di Orkes Metropolitan pimpinan Dolf van Linden sebagai pemain trombone dan aransir antara 1945-1948. Juga dia bergabung pada band Selecta dan Decca Swing Combo.
Pada bulan Juni 1948 ia berangkat ke Indonsia. Setelah itu kembali tahun 1952 ke Belanda, pada tahun 1962 ia beserta istri (Joke) dan anaknya (Karian) ke Afrika Selatan. Namun tahun 1964 ia kembali lagi ke Belanda (Hilversum). Tahun 1981 ia pensiun (usia 65 tahun), dan tutup usia di Hilversum tahun 1999 (pada usia 83 tahun).
Pada tahun 1948 Pemerintah Belanda mengirim sebuah Orkes Philharmoni pimpinan Yvon Baarspul yang datang dari Negeri Belanda sekitar 46 orang, namun kemudian tahun 1952 ditolak agar kembali ke Belanda. Sebagian dari para musisi ini (yang kemudian menetap di Yogyakarta) merupakan cikal bakal pendidik musisi di Indonesia sejak tahun 1952 dengan berdirinya Sekolah Musik Indonesia (SMIND), dan tahun 1961 berubah menjadi Akademi Musik Indonesia (AMI) di Yogyakarta, yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) sejak 1984.
Kemudian Jos Cleber seorang pemusik pop klasik seperti Mantovani, bekerja sebagai pemimpin Orkes Cosmpolitan di Jakarta, karena pemainnya terdiri atas berbagai ras (kosmospolitan). Para pemain itu ada yang dari Rusia (Nicolai Varvolomeyeff), Hongaria (George Setet, Henry Tordasi), Filipina (Pablo, Sambayon), Indonesia (Sardi, Ismail Mz., Iskandar). Selama di Indonesia ia banyak memperhatikan seni gamelan.
Indonesia Raya versi Symphony garapan Jos Cleber terkait saat ada usaha perbaruan aransemen lagu kebangsaan ini. M Jusuf Ronodipuro, yang ketika itu menjadi Kepala RRI Studio Jakarta, tahun 1950 meminta agar Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) membuat aransemen Indonesia Raya, karena telah berhasil menggarap aransemen berbagai lagu Indonesia, antara lain Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Rangkaian Melati.
Jusuf Ronodipuro menjelaskan tentang Indonesia Raya, bagaimana lagu tersebut lahir dan diciptakan, serta menjelaskan makna lagu itu. Cleber berkomentar bahwa dia menangkap nuansa Marseillasse (lagu kebangsaan Perancis) dalam Indonesia Raya. Gubahan Jos Cleber itu direkam di RRI Studio Jakarta pada awal tahun 1951 dengan melibatkan semua pemusik dari orkes cosmopolitan tersebut, direkam dengan tape recorder Philips yang baru dimiliki RRI pada waktu itu. Kemudian tahun 1997 direkam ulang dengan tehnik digital di Australia oleh Victoria Philharmony pimpinan Adie MS. Komentar Bung Karno atas aransemen Jos CleberJusuf Ronodipuro kemudian mengajak Jos Cleber menghadap Presiden Soekarno ke Istana Merdeka untuk memperdengarkan hasil rekaman itu. Bung Karno langsung mengkritik gubahan Cleber. Menurut Jusuf, Bung Karno berkata, "Indonesia Raya itu seperti Bendera Merah Putih kita. Tidak perlu diberi renda-renda lagi." (Tulisan sumber dari Wikipedia. Foto, sumbangan Bapak Tossi)).
Ia adalah anak bungsu dari delapan anak Gerardus Josephus Cleber, seorang pemain orgel dan konduktor paduan suara, ibunya Anna Maria Bastian. Ia dilahirkan sebagai keluarga Katolik. Pada tahun 1939 ia kawin dengan Elisa Magdelijns (1917-2007), mempunyai seorang anak perempuan (Yvonne Charlotte). Namun tahun 1951 kemudian bercerai dan kawin lagi tahun 1951 itu juga di Jakarta dengan Johanna Dirkje de Bruijn (lahir 1923) yang bertemu di Radio Batavia ( RRI Jakarta) dan mempunyai seorang anak perempuan juga (Karian).
Ia mempunyai bakat musik yang luar biasa, dan belajar musik dari ayahnya. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama, ia masuk Sekolah Musik Atas (muzieklyceum), dan melanjutkan belajar biola dan piano pada konservatorium di kota Luik (Belgia). Ia juga belajar musik jazz, dan pengagum Duke Elington, dan disarankan belajar saxophone dan klarinet, namun trombone adalah alat musik pilihannya (yang katanya mouthpiece trombone sesuai dengan bibirnya). Pada usia 15 tahun (1931) ia sudah bermain pada Maastrichtsch Stedelijk Orkest (orkes kota) sebagai pemain biola alto. Kemudian ia bermain pada orkes Paul Godwin, dan kemudian pada waktu dinas militer tahun 1939 main di Tonhalle Orchester Zürich. Setelah usai Perang Dunia II ia kembali ke Belanda dan bekerja sebagai pemain trombone dan biola di 'Tuschinski-Theater' di bawah pimpinan musikus Max Tak, kemudian atas bantuan musikus ini ia bekerja sebagai trombonis pada Orkes Pop AVRO pimpinan Elzard Kuhlman (AVRO = Algemeene Vereeniging Radio Omroep / Radio Penyiaran Negeri Belanda). Kemudian tahun 1942 ia bekerja sebagai trombonis pada Concertgebouw-Orkest (sebuah orkes besar di Gedung Konser Amsterdam yang terkenal hingga kini). Selain itu ia juga belajar dirigen, ilmu harmoni dan kontrapun dari komponis Kees van Baaren di Amsterdam. Kemudian ia bertemu dengan Theo Uden Masman, seorang pimpinan orkes dansa di Hilversum. Tidak lama kemudian ia bergabung di Orkes Metropolitan pimpinan Dolf van Linden sebagai pemain trombone dan aransir antara 1945-1948. Juga dia bergabung pada band Selecta dan Decca Swing Combo.
Pada bulan Juni 1948 ia berangkat ke Indonsia. Setelah itu kembali tahun 1952 ke Belanda, pada tahun 1962 ia beserta istri (Joke) dan anaknya (Karian) ke Afrika Selatan. Namun tahun 1964 ia kembali lagi ke Belanda (Hilversum). Tahun 1981 ia pensiun (usia 65 tahun), dan tutup usia di Hilversum tahun 1999 (pada usia 83 tahun).
Pada tahun 1948 Pemerintah Belanda mengirim sebuah Orkes Philharmoni pimpinan Yvon Baarspul yang datang dari Negeri Belanda sekitar 46 orang, namun kemudian tahun 1952 ditolak agar kembali ke Belanda. Sebagian dari para musisi ini (yang kemudian menetap di Yogyakarta) merupakan cikal bakal pendidik musisi di Indonesia sejak tahun 1952 dengan berdirinya Sekolah Musik Indonesia (SMIND), dan tahun 1961 berubah menjadi Akademi Musik Indonesia (AMI) di Yogyakarta, yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) sejak 1984.
Kemudian Jos Cleber seorang pemusik pop klasik seperti Mantovani, bekerja sebagai pemimpin Orkes Cosmpolitan di Jakarta, karena pemainnya terdiri atas berbagai ras (kosmospolitan). Para pemain itu ada yang dari Rusia (Nicolai Varvolomeyeff), Hongaria (George Setet, Henry Tordasi), Filipina (Pablo, Sambayon), Indonesia (Sardi, Ismail Mz., Iskandar). Selama di Indonesia ia banyak memperhatikan seni gamelan.
Indonesia Raya versi Symphony garapan Jos Cleber terkait saat ada usaha perbaruan aransemen lagu kebangsaan ini. M Jusuf Ronodipuro, yang ketika itu menjadi Kepala RRI Studio Jakarta, tahun 1950 meminta agar Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) membuat aransemen Indonesia Raya, karena telah berhasil menggarap aransemen berbagai lagu Indonesia, antara lain Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Rangkaian Melati.
Jusuf Ronodipuro menjelaskan tentang Indonesia Raya, bagaimana lagu tersebut lahir dan diciptakan, serta menjelaskan makna lagu itu. Cleber berkomentar bahwa dia menangkap nuansa Marseillasse (lagu kebangsaan Perancis) dalam Indonesia Raya. Gubahan Jos Cleber itu direkam di RRI Studio Jakarta pada awal tahun 1951 dengan melibatkan semua pemusik dari orkes cosmopolitan tersebut, direkam dengan tape recorder Philips yang baru dimiliki RRI pada waktu itu. Kemudian tahun 1997 direkam ulang dengan tehnik digital di Australia oleh Victoria Philharmony pimpinan Adie MS. Komentar Bung Karno atas aransemen Jos CleberJusuf Ronodipuro kemudian mengajak Jos Cleber menghadap Presiden Soekarno ke Istana Merdeka untuk memperdengarkan hasil rekaman itu. Bung Karno langsung mengkritik gubahan Cleber. Menurut Jusuf, Bung Karno berkata, "Indonesia Raya itu seperti Bendera Merah Putih kita. Tidak perlu diberi renda-renda lagi." (Tulisan sumber dari Wikipedia. Foto, sumbangan Bapak Tossi)).
Sunday, December 25, 2011
Hasil Tes DNA Tan Malaka Diumumkan Januari 2012
TEMPO.CO, Yogyakarta- Pengarang buku ‘Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia’, Harry A. Poeze, mengatakan hasil tes DNA terhadap sisa-sisa kerangka manusia yang diduga kuat adalah bekas tubuh Tan Malaka akan keluar pada Januari 2012. Menurut keponakan Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin, hasil tes DNA kedua dari laboratorium di Korea rencananya diumumkan ke publik pada bulan itu juga. »Setahun lebih saya menunggu-nunggu hasilnya. Saya di Indonesia hingga 20 hari mendatang juga untuk melihat pengumumannya ke publik,” kata Poeze seusai menjadi pembicara dalam bedah buku terbarunya ‘Madiun 1948, PKI Bergerak’ di sekretariat Institute Research for Empowerment (IRE) Yogyakarta pada Senin 19 Desember 2011.Hasil tes DNA itu, kata Harry, akan memastikan teka-teki lokasi eksekusi Tan Malaka dan menjadi bukti kuat tesisnya yang menduga pengarang buku Madilog itu dikuburkan di pemakaman sekitar Desa Selopanggung, Kediri.Sebelumnya, pada akhir 2009 lampau, hasil uji tes DNA yang dilakukan oleh tim dokter dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hanya menemukan 9 kecocokan dari 14 unsur yang semestinya positif sesuai dengan DNA keluarga Tan. »Memang sangat susah, isi makamnya hanya sisa-sisa kerangka, mirip debu. Hanya terlihat ada debu membentuk posisi manusia terlentang dengan tangan terikat ke belakang,” terang Poeze. Harry mengaku memiliki kesan khusus terhadap sejarah revolusi di Indonesia. Di sejarah revolusi Indonesia, dia menemukan kiprah generasi paling idealis dari bangsa Indonesia modern awal saat itu.»Semua tokoh pendiri bangsa ini adalah orang idealis. Tan, Soekarno, Hatta, Muso, dan lainnya selalu tegas memilih prinsip politik, kalah atau menang tak masalah,” kata Poeze. Dia mencontohkan dalam buku terbarunya, ada cerita ketegaran seorang Amir Syarifudin saat dieksekusi oleh pasukan Siliwangi bersama 10 petinggi Partai Komunis Indonesia pada 1948. »Sebelum ditembak dia menyeru ‘hidup kaum buruh, aku mati untukmu’,” ungkap Poeze. Menurutnya, semangat idealis tokoh-tokoh revolusi kemerdekaan ini pantas menjadi teladan bagi generasi bangsa Indonesia belakangan. Karena itu, ia beranggapan, sebaiknya penulisan sejarah revolusi Indonesia, yang selama ini lebih banyak melibatkan indonesianis asing, mulai diambil alih oleh peneliti Indonesia sendiri.»Sayangnya, banyak peneliti sini (Indonesia) tak menguasai banyak bahasa, jadi sulit teliti dokumen yang berbahasa Belanda, Jerman, Rusia dan lainnya. Apalagi, dana riset minim,” keluhnya. ADDI MAWAHIBUN IDHOM
Foto: Tan Malaka, Soekarni dan Nyonya Mangunsarkoro, Purwokerto awal 1946.
Thursday, December 22, 2011
Republik Indonesia Serikat hasil perjuangan diplomasi
Republik Indonesia Serikat (RIS) yang muncul sebagai hasil perundingan Indonesia Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) serta pada tanggal 27 Desember 1949 telah terjadi penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah RIS, merupakan hasil perjuangan diplomasi bangsa Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno. Lihatlah dalam tayangan pendek dari AVEX video production ini.....
Wednesday, December 14, 2011
Romusha di Biak
Coba bayangkan tahun 1943-1944 anda dijanjikan Jepang untuk sekolah ke Tokyo. Tapi ternyata dijadikan Romusha di Indonesia Timur. Badan tinggal pembalut tulang, sebagian besar meninggal dunia. Tahun 1945 dibebaskan pasukan Belanda dibawah pemerintahan NICA. Sebuah sudut pandang yang sedikit berbeda, bukan citra Hero tapi lebih pada Humanisme
Tuesday, December 13, 2011
8 orang Stovians
8 orang Stovians yang terkenal itu. Duduk dari ki-ka, Goenawan Mangoenkoesoemo, Latoemeten, Mohamad Arsjad, Angka Diprodjosoedirdjo. Berdiri dari ki-ka, Mohamad Saleh, Soesilo, Soetomo dan Goembrek.
Friday, December 9, 2011
Permintaan maaf Duta Besar Belanda di Indonesia
Tadi pagi tanggal 9 Desember 2011 bertempat didesa Balongsari, tepatnya pada monumen Rawagede dan taman makam pahlawan Rawagede diadakan upacara memperingati 64 tahun peristiwa Rawagede 9 Desember 1947. Hadir sejumlah tokoh yang mendapat undangan dan wartawan dalam dan luar negeri. Yang penting acara ini juga dihadiri oleh Duta Besar Belanda di Indonesia Tjeerd de Zwaan dan pengacara korban Rawagede Liesbeth Zegvel. Dalam kesempatan ini Duta Besar Belanda itu telah minta maaf.
Subscribe to:
Posts (Atom)



