Friday, September 14, 2012

Tommy Lee Jones sebagai Jenderal Douglas MacArthur


Bintang film pemenang Oscar, Tommy Lee Jones sebagai Jenderal Douglas MacArthur. Sungguh cocok perannya dalam film "Emperor". Seperti kita ketahui pernah ditulis buku tentang MacArthur berjudul "American Caesar" diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (2 buku) sebagai Sang Penakluk... 

Sunday, September 9, 2012

Asal Mula Kota Sabang dan Pulau Weh


Tak banyak literatur yang bisa diperoleh untuk menjelaskan asal-usul Kota Sabang. Legenda yang beredar di masyarakat Sabang, yang terletak di Pulau Weh, pulau itu dulunya bersatu dengan daratan Sumatera. Namun, akibat gempa bumi, ribuan bahkan belasan ribu tahun lampau, pulau ini terpisah dengan daratan. Begitu juga dengan pulau-pulau di sekitarnya, Seperti Pulau Rondo, Pulau Rubiah, Pulau Seulako dan Pulau Klah.

Sekitar tahun 301 sebelum Masehi, seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka, pulah Weh! Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.

Pada abad ke 12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, jauh mengarungi samudera melalui rute Maldives, Pulau Kalkit (India), Sri Langka, Andaman, Nias, Weh, Penang, dan Canton (China). Sinbad berlabuh di sebuah pulau dan juga menamainya Pulau Emas, pulau itu yang dikenal orang sekarang dengan nama Pulau Weh.

Dan pada awal abad ke-15. Penjelajah asal China, Cheng Ho, pernah singgah di sana tahun 1413-1415. Catatan Ma Huan, salah satu penerjemah Cheng Ho, menjelaskan bahwa di sebelah barat laut dari Aceh terdapat daratan dengan gunung menjulang, yang dia beri nama Gunung Mao. Di sana terdapat sekitar 30 keluarga. Banyak para ahli sejarah menegaskan bahwa yang dimaksud Gunung Mao itu adalah Pulau Weh.

Dalam bukunya Ying Yai Sheng Lan yang kemudian diterjemahkan menjadi The Overall Survey of The Ocean’s Shores, Ma Huan menceritakan bahwa daratan itu menjadi salah satu tempat persinggahan para saudagar dari berbagai negara.

Gunung Mao yang tampak mencolok dari lautan itu menjadi suar atau petanda bagi para saudagar. Sabang sendiri merupakan penghasil kayu laka terbaik serta penghasil bunga teratai.

Erond juga menduga bahwa Sabang saat itu menjadi salah satu bagian dari jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia sampai China Selatan pada abad ke-12 sampai ke-15. Thailand, Sri Lanka, dan India termasuk di dalamnya.

Asal Mula Nama Sabang Dan Pulau Weh

Nama Sabang sendiri, berasal dari bahasa Aceh ”Saban”, yang berarti sama rata atau tanpa diskriminasi. Kata itu berangkat dari karakter orang Sabang yang cenderung mudah menerima pendatang atau pengunjung. Karakter ini agak berbeda dengan karakter orang Aceh umumnya yang cenderung tertutup terhadap orang yang baru mereka kenal.

Versi lain menyebutkan bahwa nama Sabang berasal dari bahasa arab, yaitu "Shabag" yang artinya gunung meletus. Dahulu kala masih banyak gunung berapi yang masih aktif di Sabang, hal ini masih bisa dilihat di gunung berapi di Jaboi dan Gunung berapi di dalam laut Pria Laot.

Sedangkan Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa aceh, ”weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, yakni penyatuan daratan sabang dengan daratan Ulee Lheue. Ulee Lheue di Banda Aceh berasal dari kata Ulee Lheueh ("Lheueh" ; yang terlepas). Syahdan, bahwa Gunung berapi-lah (yang teresbut diatas) meletus dan menyebabkan kawasan ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah akibat Krakatau meletus.
Pulau "W" / Weh / Sabang
Dalam Versi lain, Pulau Weh juga terkenal dengan pulau "We" tanpa h. ada yang berasumsi jika pulau weh diberi nama pulau we karena bentuknya seperti huruf "W".
Menurut sebuah legenda menceritakan putri cantik jelita yang mendiami pulau ini meminta kepada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini bisa ditanami. Untuk itu, dia membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut.

Kemudian terbentuklah danau yang lalu diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas lebih kurang 30 hektar itu hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang meski ketinggian airnya terus menyusut. Setelah keinginannya terpenuhi, sang putri menceburkan diri ke laut.

Meski tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan sang putri agar Sabang menjadi daerah yang subur dan indah setidaknya tecermin dari adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang. Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan kepada masyarakat.

****

Pulau Weh atau Sabang telah dikenal dunia sejak awal abad ke-15. Sekitar tahun 1900, Sabang adalah sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang bisa menampung 25.000 ton batubara telah terbangun.

Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya, hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Namun, di saat Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.

Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Indonesia merencanakan untuk mengembangkan Sabang di berbagai aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Tetapi akhirnya ditutup pada tahun 1986 dengan alasan menjadi daerah yang rawan untuk penyelundupan barang.

Awal Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas. Barang-barang yang diimpor lewat Sabang bebas pajak. Mobil-mobil mewah asal Singapura dijual murah di kota itu.

Namun, ketika Aceh ditetapkan sebagai daerah operasi militer, aktivitas Sabang sebagai pelabuhan bebas terhenti. Aktivitas pelabuhan bebas makin sepi dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 610/MPP/Kep/ 10/2004 tentang Perubahan atas Keputusan Menperindag Nomor 756/MPP/Kep/12/2003 tentang Impor Barang Modal Bukan Baru. Tak boleh lagi ada barang bekas yang boleh masuk dari seluruh daerah perbatasan Indonesia, termasuk Sabang.



Wednesday, September 5, 2012

3 Permintaan Kartosoewirjo sebelum dieksekusi mati


Tanggal 5 September 2012 bertempat di TIM II diadakan acara peluncuran buku Fadli Zon..."Hari Terakhir Kartosoewirjo. Sarjono Kartosoewirjo putra Kartosuwirjo menyampaikan pidatonya soal Bapaknya mengenai permintaan sebelum eksekusi. ADA empat permintaan yang disebutkan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, sebelum dieksusi mati di Pulau Ubi. Dari empat permintaan, hanya satu yang dikabulkan Ketua Mahkamah Darurat Perang kala itu. Demikian diungkapkan oleh Sarjono, putra bungsunya dalam peluncuran dan bedah buku ‘Hari Terakhir Kartosoewirjo’ di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (5/9/2012) beberapa jam yang lalu. Pertama, Kartosoewirjo menginginkan pertemuan dengan perwira-perwira terdekat.  Permintaan ini ditolak. Kedua, Kartosoewirjo minta eksekusinya disaksikan oleh perwakilan keluarga. Namun permintaan ini juga ditolak dengan alasan bertentangan dengan budaya. Ketiga, Kartosoewirjo yang memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) ini meminta jasadnya dikembalikan ke keluarga untuk dimakamkan di pemakaman keluarga.  Permintaan ini juga ditolak. Permintaan keempat, bertemu dengan keluarga sebelum ditembak mati, dikabulkan oleh Ketua Mahkamah Darurat Perang saat itu.
Ketika itu terjadi, saat itu Sarjono masih berusia 5 tahun. [sa/pz/islampos]

Saturday, August 25, 2012

Hindia Belanda Menjelang Perang Dunia ke II

3 Penguasa Hindia Belanda sebelum perang. Kiri ke kanan. Jenderal Gerardus Johannes Berenschot (Panglima KNIL), Gubernur Jenderal Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gubernur Jenderal Hindia Belanda tera
hir) dan Laksamana Conrad Emil Lambert Helfrich (Panglima Angkatan Laut Belanda di Hindia). Sebenarnya sudah tidak ada hubungan sejarah antara zaman keemasan Kolonial Belanda di Hindia itu dengan zaman Republik Indonesia yang Merdeka dan Berdaulat saat ini. Kecuali upacara Kemerdekaan yang selalu diadakan setiap tahun di Istana Merdeka. Tempat itu (istana Gambir atau Koningsplein Palace...sekarang kita selalu menyebutnya sebagai Istana merdeka), adalah cacat dari Revolusi Indonesia. Memuliakan tempat tersebut selalu seolah membuka luka lama dari penderitaan penjajahan oleh Kolonial Belanda. Tempat itu sejak didirikan selalu menjadi tempat terhormat bagi perayaan-perayaan Pemerintah Hindia Belanda. Ketiga tokoh ini sebelum perang saat diambil gambarnya, sedang bergembira ria dimuka Koningsplein Palace...Mungkin sedang merayakan Koninginnedag atau Hari Ratu pada setiap tanggal 31 Agustus. Saat itu ratu Belanda adalah Wilhelmina. Sementara gedung dan tempat yang romantis-legendaris bersahaja dan sangat berjasa yaitu Rumah Bung Karno atau Rumah Proklamasi di Pegangsaan Timur 56 Jakarta (sekarang jalan Proklamasi) dicampakkan, dibongkar dan tidak dihargai . Sehingga terkesan disia-sia ? Mana penghargaan Bangsa Indonesia pada itu jiwa Kemerdekaan yang kita harus pelihara ? Kembali kepada ketiga penguasa Hindia Belanda sebelum perang. Perlu ditambahkan, ketiganya tidak bernasib sama. Berenschot meninggal dunia saat pesawatnya pada tanggal 13 October 1941 meledak di Lapangan Terbang Kemayoran Jakarta. Tjarda van Starkenborgh saat Jepang menduduki Jawa Maret 1942 ditangkap dan dipenjara. Baru pada Agustus 1945 saat dipenjara di Manchuria dibebaskan tentara sekutu. Mungkin yang nasibnya baik adalah Helfrich yang berhasil melarikan diri ke Ceylon beberapa saat sebelum Jepang tiba. Oleh karena itu hanya Tjarda dan Terporten (pengganti Berenschot) yang langsung digiring Jepang masuk kamp interniran di Bandung setelah menyerah tanpa syarat di Kalijati pada tanggal 8-9 Maret 1942. Setelah Belanda kembali ke Indonesia (Oktober 1945) Helfrich kembali pada jabatannya sebelum perang, tapi karena tidak cocok dengan sekutu khabarnya atas desakan banyak pihak diganti oleh stafnya yaitu Laksamana Pinke. Ada harapan saya bisa dimunculkan diskusi atas topik dan hal ini ? Ada yang berminat ? Nanti akan kita angkat dokumen lain terkait yang mungkin ada gunanya untuk Nation and Character Building Bangsa Indonesia ?

Friday, August 3, 2012

Grebeb Maulud di Yogya pada masa lalu

Grebek Maulud tahun 1930-an di Yogya. Tampak Sultan Yogya HB VIII menerima kedatangan Gubernur Belanda dan Residen Belanda. Terdengar lagu Wilhelmus diperdengarkan. tampak Gunungan dibawa masuk. Tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang. Tentu saja tanpa Wilhelmus..

Saturday, July 28, 2012

Daan Jahja Gubernur Militer Jakarta tahun 1949-1950

Letnan Kolonel H. Daan Jahja lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Januari 1925  meninggal di Jakarta, 20 Juni 1985 pada umur 60 tahun, adalah Gubernur (Militer) Jakarta dan Panglima Divisi Siliwangi. Jebolan Sekolah Tinggi Kedokteran dizaman Jepang (Ika Daigaku). Dikeluarkan karena menolak penggundulan serta berdemo terhadap pemerintah pendudukan militer Jepang di Jakarta. Ia memainkan peranan penting dalam menumpas aksi Kapten Westerling yang mau merebut kekuasaan negara karena tidak menerima penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tanggal 27 Desember 1949. Daan Jahja lahir dari pasangan Jahja Datoek Kajo dan Sjahrizan Jahja, asal Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan anggota Volksraad yang cukup vokal, dan orang yang pertama kali berpidato menggunakan bahasa Indonesia dalam sidang Volksraad. Daan merupakan anak yang tertua dari sembilan bersaudara. Daan Jahja aktif terlibat pada masa-masa revolusi Indonesia. Dia bergabung dengan kelompok Prapatan 10, satu dari dua kelompok pemuda yang paling menonjol pada masa kemerdekaan Indonesia. Kelompok Prapatan 10 yang bermarkas di Jl. Prapatan 10, Jakarta merupakan pengikut Sutan Sjahrir. Sedangkan kelompok lainnya, yakni Menteng 31 menjadi pengikut Tan Malaka. Daan Jahja menjadi salah seorang pemimpin dalam kelompok Parapatan 10 ini. Pada peristiwa Rengasdengklok, Daan dan kelompok Prapatan 10 maupun Menteng 31 bertugas untuk membawa Soekarno-Mohammad Hatta ke Rengasdengklok. Kedua kelompok ini menuntut agar Soekarno-Hatta cepat-cepat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Beliau juga terlibat aktif pada saat rapat raksasa 19 September 1945 di Lapangan Ikada, Jakarta. Pada masa Agresi Militer Belanda II, beliau ditempatkan di wilayah Sumatera. Kepada menteri pertahanan Mohammad Hatta, ia menyampaikan memorandum agar pemerintah menyiapkan pangkalan cadangan di tempat yang lebih luas yang memungkinkan pemerintah bergerak lebih leluasa untuk perang gerilya. Tempat yang disarankannya adalah Bukittinggi, Sumatera Barat, mengingat ruang gerak di pulau Jawa yang semakin sempit. Saat menjabat gubernur militer Jakarta, Daan Jahja berhasil menyelesaikan masalah administratif pemerintahan Jakarta yang sebelumnya diatur oleh Belanda. Letnan Kolonel H. Daan Jahja wafat pada tanggal 20 Juni 1985 tepat pada saat Idul Fitri 1405. Beliau wafat sepulang dari mesjid Sunda Kelapa, Jakarta setelah melaksanakan salat Ied

Thursday, July 26, 2012

Garuda Pancasila di gedung Parlemen RIS


Lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang negara Indonesia berbentuk burung Garuda yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), dilengkapi perisai berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Parlemen Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950. Lambang negara Garuda Pancasila diatur penggunaannya dalam Peraturan Pemerintah No. 43/1958. Garuda Pancasila yang diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950 tersebut, masih tanpa jambul dan posisi cakar di belakang pita. Seperti tampak pada foto atas, adalah gedung Parlemen RIS yang sebelumnya bernama Gedung Concordia terletak disebelah Gedung Kementerian Keuangan Lapangan Banteng Jakarta. Gedung ini sudah lama dibongkar. Foto bawah Sidang .Parlemen RIS dimana Presiden RIS Soekarno sedang membacakan pidatonya.