Saturday, March 31, 2007

25 Maret 1947, 60 th yang lalu dokumen Linggajati ditanda tangani

Tanggal 25 Maret 1947, tepat 60 tahun yang lalu ditandatanganilah dokumen persetujuan Linggajati. Tempat penandatanganan di stana Rijswijk (sekarang istana negara). Sejumlah undangan berdatangan, tampak hadir Jenderal Spoor panglima tentara Hindia Belanda, van Mook sebagai Letnan Gubernur Jenderal, para anggota Komisi Jenderal minus de Boer(terdiri hanya Prof.Schermerhorn dan van Poll, karena de Boer yang mengundurkan diri). Terlihat pula para tamu undangan, para duta besar negara sahabat, pejabat Hindia Belanda dan para petinggi negara-negara federal. Dari pihak Indonesia, selain delegasiIndonesia lengkap terdiri Perdana menteri Sutan Sjahrir, Mr Mohammad Roem, Dr AK Gani, Mr Soesanto Tirtoprodjo dan para pejabat pendamping seperti Mr Amir Sjarifoedin, Dr Leimena, Dr Soedarsono dan sekretaris Mr Ali Boediardjo. Juga tampak H.Agus Salim. Dimuka, dipasang meja besar tempat para delegasi duduk dan siap menandatangani dokumen. Adalah Rosihan Anwar, wartawan yang saat itu ditugaskan untuk bertindak sebagai penyiar radio RRI. Rosihan dengan piawainya menyampaikan kepada publik pandangan mata jalannya upacaramelalui corong radio. Sedangkan dari pihak radio Belanda di Batavia, bertindak Al-Mesawa pejabat NICA yang ditugaskan dalam fungsi yang sama, tapi untuk siaran diperuntukkan kaum Belanda. Dalam pidatonya Bung Sjahrir antara lain berkata : "Dengan penandatanganan persetujuan Linggajati ini kita menyaksikan sebuah peristiwa yang besar artinya serta besar pula akibatnya". Prof.Schermerhorn selaku ketua delegasi Belanda dan dr van Mook sebagai pimpinan Pemerintahan Hindia Belanda, juga memberikan sambutannya. Perjanjian gencatan senjata yang telah ditanda tangani pada tanggal 14 Oktober 1946, setelah pendatanganan dokumen 25 Maret ini, ternyata tidak berumur panjang. Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda memutuskan untuk tidak ada urusan lagi soal gencatan senjata itu dan melakukan Agresi Militernya yang pertama. Foto atas, saat Perdana Menteri Sutan Sjahrir, menandatangani dokumen dimaksud.

Monday, March 26, 2007

Ibu Nelly Adam Malik telah tiada


Ibu Nelly Adam Malik telah tiada. Istri Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga, Ny Nelly Adam Malik, Minggu (25/3) pukul 22.20, meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan. Ny Nelly sempat dirawat di RS MMC sejak Jumat (23/3) akibat serangan stroke. Sejak Senin pagi hari, rumah duka di Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat, dibanjiri pelayat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla hadir di rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir. Hadir pula antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, mantan Presiden BJ Habibie, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Ny Nelly Adam Malik lahir di Jakarta, 15 Mei 1925, putri kedua Datuk Ilyas Gelar Rajo Mara dan Siti Zuleiha. Ia meninggalkan seorang anak laki-laki, Otto Malik, dua anak perempuan, Antarini Malik dan Budisita Malik, serta 17 cucu. Ny Nelly dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer yang dipimpin Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Bachtiar mengungkapkan, Nelly Adam Malik dikenal sebagai sosok yang memegang teguh prinsip dan setia kepada negara. Bersama Adam Malik, dia turut mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaannya. Menurut Antarini Malik, sejak masuk RS kondisi kesehatan almarhumah terus menurun akibat lanjut usia. Ia pun menderita penurunan fungsi otot jantung. "Ibu sudah lama tak aktif di berbagai kegiatan sosial," katanya. Sejumlah organisasi sosial pernah dirintis Ny Nelly bersama sejumlah istri pejabat lainnya. Pemegang penghargaan Bintang Mahaputra itu pernah menjadi Ketua Dewan Kerajinan Nasional pada 1980-1983. Ia juga ikut mendirikan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia bersama Ny Tien Soeharto pada 1979. Selain itu, Ny Nelly pernah menjadi anggota DPR pada 1971-1978 dan menjadi Ketua Yayasan Adam Malik yang mengelola Museum Adam Malik. Menurut Otto Malik, ibundanya setia mendampingi ayahnya, Adam Malik, pada 1942-1984, dalam suka dan duka. Dari Berita Kompas 27 Maret 2007

Saturday, March 10, 2007

Prof.Koesnadi telah tiada


Dalam peristiwa kecelakaan terbakarnya pesawat Garuda GA 200 di lapangan terbang Adisucipto Yogyakarta tanggal 7 Maret 2007 jam 7.00 pagi, telah meninggal dunia, teman baik saya Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri. Beliau lahir tanggal 9 Desember 1926 di Manon Jaya Tasikmalaya, jadi pada bulan Desember tahun kemarin, beliau baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 80. Dizaman Jepang dan awal Revolusi, beliau menamatkan Sekolah Lanjutan Atasnya yang bernama SMT (Sekolah Menengah Tinggi) bertempat dibekas gedung Kanisius. Tahun 50-an, ikut kuliah di Universitas Gajah Mada, Fakultas Hukum dan berhasil lulus pada tahun 1964. Predikat Doktor dibidang Sosiologi didapat dari Rijks Universiteit Leiden, ilmu lingkungan dari IPB dan UNPAD. Sejumlah jabatan pernah diembannya. Mulai sebagai dosen UGM sampai menjabat Rektor. Juga pernah menjabat Direktur Pendidikan Tinggi Dep.Dik.Bud, atase kebudayaan pada kedutaan Besar Indonesia di Den Haag Belanda, Sekretaris menteri Negara Lingkungan Hidup. Sampai akhir hayatnya beliau tetap mengajar diberbagai Universitas di Yogyakarta maupun di Jakarta. Itulah sebabnya naik pesawat terbang Jakarta-Yogyakarta bagaikan bagian dari kehidupan mingguannya.
Rasanya masih seperti bertemu kemarin, padahal pertemuannya saya dengan beliau yang terahir, terjadi pada acara Seminar di Hotel Milenium tahun 2006. Saat itu beliau menyampaikan makalahnya soal PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) pada tahun 50-an. Dimana saat itu Pemerintah belum dapat mencukupi tenaga guru SMA. Maka atas usaha Pak Kusnadi dan beberapa Mahasiswa UGM, diberangkatkanlah sejumlah mahasiswa ke seluruh Indonesia sebagai pengajar diluar Jawa. pak Kusnadi sendiri ikut mengajar di SMA di Kupang, NTT. Tidak banyak yang tahu bahwa, Pak Kusnadi adalah anggota PT.TKR (Polisi Tentara Keaman rakyat) pada zaman Revolusi, dengan pangkat letnan. Wilayah penugasannya adalah Sukabumi-Cianjur. Pada suatu hari, beliau ditugaskan Let.Kol Alex Kawilarang untuk mengantar 2 karung emas permata hasi rampasan Jepang yang sempat dikuburkan di kebun karet. Maka setelah harta itu disita pihak TKR, kepada Pak Kusnadi dan seorang temannya diperintahkan untuk diantarkan kepada Kementerian Keuangan di Yogyakarta. Namun ketika tiba di Yogya, kembali dua karung barang berharga itu harus dibawa ke Purworejo, tempat kementerian itu berada. Selama Revolusi, Pak kusnadi bergabung dengan TP (Tentara Pelajar) Yogya. Diantara teman-temannya adalah Radius Prawiro dan Nugroho Notosutanto. Setelah tahun 1948, beliau ditugaskan di Wherkreise didaerah Pekalongan - Tegal - Brebes. Pada suatu hari terjadi serangan Belanda secara mendadak. Pak Kusnadi berlari lewat pintu belakang, tapi sungguh kaget karena disitu sudah muncul sejumlah tentara Belanda. Maka dia berbalik arah untu melarikan diri kearah lain. Sungguh sangat ajaib, hanya berjarak 5 meter, tapi si Belanda tidak menembaknya. Salah satu kemungkian karena melihat tubuhnya yang kecil yang menggunakan celana pendek sehingga dikira anak kecil. Padahal sebagai perwira, Pak Kusnadi pernah diminta untuk menjabat Camat, menggantikan Camat lama yang didaulat rakyat. Pak Kusnadi adalah anggota Veteran yang mendapat "Bintang Gerilya" karena jasanya dalam perjuangan Perang kemerdekaan. Selamat jalan Prof...Jasamu tidak akan kami lupakan.

Saturday, February 10, 2007

Sobron Aidit telah tiada

Ada berita dari Paris, bahwa pada jam 9.00 pagi waktu setempat hari Sabtu tanggal 10 Februari 2007, Sobron Aidit telah meninggal dunia. Bagi pecinta komunikasi internet, nama beliau tidak asing. Dengan rajinnya dia menulis apa saja. Mulai dari Puisi, reportase peristiwa, tanggapan sosial, politik, budaya sampai tek-tek bengek. Tapi yang terbesar perhatiannya adalah pada dunia sastra. Khabarnya terahir kali beliau ke Indonesia beberapa bulan yang lalu, mungkin untuk melihat tanah tumpah darahnya. Tentu saja ke Belitung melihat kampung halaman, tempat pada masa yang lalu bersama keluarga besar Aidit masih sering berkumpul. Tampak Sobron menulis terbesar karena dorongan sebagai sastrawan. Dia tidak peduli kalau tulisannya mau dibaca orang atau tidak. Tapi dia menulis terus dan terus. Bagi saya tulisannya yang menyangkut sejarah dan tokoh saja yang saya perhatian. Dan ini sungguh berguna, karena sesungguhnya Sobron adalah pelaku dan saksi hidup pada masanya. Dia bercerita cukup objektif pada masa-masa sulit ditanah air sekitar tahun 1965, di Tiongkok, Belanda dan Paris pada tahun-tahun berikutnya. Yang juga menarik saya saat-saat pengalamannya ketika mulai berkecimpung didunia sastra. Tidak saya sangka sama sekali, rupanya 3 orang dari bidang sastra (yang kini semua sudah tiada) pernah bersahabat dan sering berjalan bersama. Mereka adalah Sobron, Ramadhan KH dan Nugroho Notosutanto. Sejumlah nama tokoh dan pengalamannya berhubungan dengan tokoh itu ditulisnya secara terbuka dan luwes. Misalnya Rosihan Anwar, Mukhtar Lubis, Pramudya Anantatur dan masih banyak lagi. Perhatiannya amat besar untuk menulis sesuatu tentang seseorang yang dikenalnya dengan baik saat orang itu meninggal dunia. Semoga demikian pula dalam berbagai group, website atau perorangan dalam dunia maya ini, ada banyak yang bersedia menulis tentang beliau hari-hari belakang ini, guna mengantar kepergiannya. Saya sendiri belum pernah bertemu muka, tapi kami pernah berhubungan lewat email. Saya masih ingat sekitar tahun 2005, saya menanyakan tentang pengetahuannya berkaitan dengan tokoh DN Aidit (kakak kandungnya) dalam periode 1945 - 1948. Semua di jawabnya dengan jujur dan baik. Dia juga berterima kasih atas kiriman saya foto-foto DN Aidit dalam periode itu. Selamat jalan Pak Sobron, tulisan anda selalu saya kenang.

Thursday, February 8, 2007

Dari dulu juga Jakarta sering banjir

Kalau kita bergunjing soal banjir Jakarta, apalagi sampai bikin Gubernur pusing. Itu sih bukan soal baru. Berbagai daerah disekitar Jakarta memang langganan banjir. contoh pada gambar diatas, sekitar lapangan Gambir (sekarang Monas) lagi kebanjiran. Sejumlah mobil mobil kuno sekitar tahun 20-an, terpaksa didorong karena mogok. Seperti biasa dari dulu, rupanya anak-anak kampung dapet rejeki nomplok kalau hujan mulai musim. Merka mendorong, kalau perlu sampai kerumah. Apakah saat itu berlaku hujan besar dan banjir lima tahunan ?. Kurang jelas. Tapi coba bayangkan, dikala jumlah penduduk Jakarta tidak sampai 1 juta, dikala hutan sekitar Bogor belum gundul, dikala daerah resapan belum jadi hutan beton, dan dikala pemerintah kolonial Belanda secara rajin menjaga sistim irigasi secara baik...kok bisa banjir di Jakarta. Apalagi sekarang ! Parah dan lebih parah lagi dimasa depan. Kadang sejarah mampu membuat kita belajar dari masa lalu. Sejarah kita selalu melayani anda. Terima kasih.

Wednesday, February 7, 2007

Pertemuan Drees-Sjahrir 1949


Oleh : H. ROSIHAN ANWAR
JANUARI 1949 terjadi hal-hal yang menunjukkan sulitnya perjuangan mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. Pimpinan pemerintah Republik Indonesia berada dalam tahanan militer Belanda di Prapat dan di Bangka. Pada bulan itu pula PM Belanda Dr. Willem Drees berkunjung ke Jakarta. Tanggal 19 Desember 1948 Jenderal Spoor memimpin aksi militer kedua. Dalam waktu sekejap Yogya diduduki. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, Penasehat Presiden Sjahrir, Deputi Menteri Luar Negeri H. Agus Salim, Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Mr Assaat, Menteri Pendidikan Mr Ali Sastroamidjojo, Sekretaris Negara Mr Pringgodigdo, Komodor Udara Suryadarma ditawan dan dibuang ke Prapat di Sumatra Utara dan Pulau Bangka.
Wakil Mahkota Agung dan mantan PM Belanda Dr. Louis Beel berpendirian bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Tapi Dewan Keamanan PBB tidak berpendapat demikian. RI yang November 1946 berunding dengan Belanda di Linggajati dan diakui berkuasa de facto di Jawa dan Sumatra tidak hilang begitu saja. PM Belanda Drees melihat gengsi internasional para pemimpin republik yang ditahan oleh militer Belanda malahan meningkat. Dewan Keamanan menyerukan supaya Soekarno-Hatta dibebaskan dan dikembalikan ke Yogya, kemudian usaha penyelesaian konflik Indonesia-Belanda dilanjutkan di bawah supervisi Dewan Keamanan PBB. Dreees mengunjungi Jakarta buat kedua kalinya. Yang pertama kali tahun 1947, ketika dia bertemu dengan PM Sjahrir.
Petang hari, 18 Januari 1949 dalam hujan gerimis Sjahrir tiba di lapangan terbang Kemayoran Jakarta dari Medan. Sejak 19 Desember 1948 dia ditahan di sebuah rumah di Prapat bersama Soekarno dan H. Agus Salim, dan kemudian dibebaskan, balik ke Jakarta untuk bertemu dengan PM Drees pada malam itu juga. Di Kemayoran Sjahrir disambut oleh Dr P.J. Koets Direktur kabinet Gubernur Jenderal Belanda dan oleh sejumlah wartawan luar dan dalam negeri. Saya hadir sebagai Pemred Pedoman. Berjalan di samping anak angkatnya Lily (kelak Ny. Lily Sutantio) Sjahrir tidak memberikan keterangan kepada pers yang menunggu. No comment, kata eks PM Republik Indonesia (1945-47).Sebelum bertemu Drees di Istana, Sjahrir bicara dengan Prof. Dr. Supomo, anggota delegasi perundingan Republik. Dia memberikan jaminan kepada Supomo tidak akan memulai perundingan dengan Drees atau orang-orang federal (Anak Agung dkk.), sebelum para pemimpin RI yang ditahan telah dibebaskan, dan sebelum dipulihkan posisi mereka selaku Pemerintah RI. Ketika itu saya tidak punya informasi tentang isi pembicaraan Drees-Sjahrir. Tapi baru-baru ini Prof. Dr. Bambang Hidayat dari Observatorium Bosscha Lembang memberi saya buku Vier Jaar Nachtmerrie (Empat Tahun Mimpi Buruk), karangan Mans Daalder (2004). Di dalam buku itu terdapat isi pembicaraan Drees-Sjahrir. Terlebih dahulu Sjahrir menegaskan dia datang "sebagai perorangan di luar kalangan pemerintahan republik". Ia pernah sesaat berpikir untuk tidak lagi mengurus masalah Indonesia, akan tetapi akhirnya berpendapat bahwa masalah itu sekarang begitu penting hingga dia tidak bisa dan tidak boleh menjauhkan diri.Drees yang didampingi oleh Michiels Verduynen, Dubes Belanda di London, menegaskan, kepentingan yang mereka berikan terhadap perundingan antar-Indonesia (federal dengan republikein). Ia menjelaskan jadwal penyerahan kedaulatan yang telah disampaikan oleh Belanda kepada PBB. Sjahrir berkata "Tidak satu pun dari kedua pihak memperoleh keuntungan, apabila mereka tetap seratus persen tinggal berdiri berhadap-hadapan". Dia tidak ingin dalam pembicaraan ini menyalahkan salah satu dari kedua pihak. Akan tetapi dia tidak bersedia mengadakan kewajiban ikatan tanpa persetujuan dari kabinet Hatta yang republikein (hal. 306). Drees ingin bicara dengan Hatta. Pegawai tinggi A.W.C. Giabel pergi ke Bangka untuk mengatur pertemuan. Hatta menghargai kontak dengan Drees, tapi dia tidak pergi ke Jakarta, karena kunjungan Wapres RI ke ibukota Indonesia bisa ditafsirkan sebagai penyerahan diri . Kesan demikian harus dihindarkan, karena kartu RI di Dewan Keamanan PBB sedang dalam keadaan bagus. Giebel menawarkan kepada Hatta untuk terbang dengan pesawat militer ke Jakarta dan kembali dengan cara serupa ke Bangka. Hatta menolak, karena kunjungannya kepada Drees tidak dapat dirahasiakan. Hatta di jalanan akan segera dikenal orang di mana-mana. Tapi dia mau bertemu di mana saja, kecuali di Jakarta, Giebel masih berusaha mengatur pertemuan Singapura. Itu pun gagal. Drees balik ke Negeri Belanda tanggal 20 Januari 1949. Drees tidak berhasil dalam misinya ke Indonesia. Sjahrir tidak kembali ke Prapat. Soekarno tidak senang. Sjahrir dianggap "mengkhianati perjuangan". Suasana di Prapat sudah agak lama tidak baik. Sjahrir mengecam Soekarno yang meminta kemeja Arrow kepada pengawal Belanda. Sjahrir menyuruh Soekarno tutup mulut. Soekarno lagi di kamar mandi bernyanyi-nyanyi lagu "One day we were young....." Soekarno jengkel karena pada hematnya ketiadaan respek Sjahrir terhadap presiden. Begitulah ceritanya dari bulan Januari tahun 1949.***
Penulis, wartawan senior Indonesia