Showing posts with label Prasasti. Show all posts
Showing posts with label Prasasti. Show all posts

Monday, November 12, 2012

PRASASTI KARANGBOGEM DI GRESIK JAWA TIMUR


Prasasti Karang Bogem, sebuah prasasti berasal dari zaman Majapahit berangka tahun 1387 M ditemukan di Karang Bogem (masuk kawasan Kecamatan Bungah sekarang) memuat nama Gresik dalam Bahasa Jawa kuno, berikut isinya:

Bagian muka :
     “ Iku wruhane para mantri ing tirah, aryya songga, pabayeman, aryya carita purut, patih lajer, wruhane yen ingong amage-
haken karange patih tambak karang bogem, penangane, kidul lebuh, panangane wetan sadawata anutug segera pisan,
penangane kulon babatan demung wana, anutug segera pisan, pasawahane sajung babatan akikil, iku ta malerahaja den siddhigawe
Hana ta kawulaningong saking Gresik warigaluh ahutang saketi rong laksa genep sabisane hasikep rowang warigaluh luputata pangarah saking si-
dhayu kapangarahan po hiya sakti dalem galangan kawolu anghaturakna tahiya bacan bobot sewu sarahi atombak sesine
tambake akature ringong, hana ta dagang angogogondhok, amahat, luputa ta ring arik purih saprakara, knaha tahiya ring pamuja.”

Bagian belakang :
“Sategah, anuta sarrarataning wargga taman sebhumi. Tithi, ka 7, cirah 8 // andaka kakatang//.”

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Bagian muka :
“Bahwa inilah surat yang harus diketahui oleh para mantri Tirah, yang mulia Songga dari Pabayeman, yaitu yang mulia Carita dari Purut, Patih Lajer. Mereka hendaknya mengetahui bahwa kita telah
menetapkan daerah seorang patih tambak Karang Bogem. Perbatasannya di sebelah selatan dengan sebidang ladang, di sebelah timur berbatasan dengan tanah yang mendatar dari laut.
Di sebelah barat berbatasan dengan tanah penebasan hutan belukar kayu demung yang mendatar dari laut. Adapun luasnya sawah satu jung dan penebasan satu kikil. Demikian perbatasan itu. Jangan diganggu penetapan itu.
Kemudian adalah seorang warga kami berasal dari Gresik, kerjanya sebagai nelayan, mempunyai utang sejumlah satu kati dua laksa (kira-kira 120.000 ?). Sedapat-dapatnya dia akan memungut bantuan sesama nelayan. Kini mereka, akan bebas dari tuntutan dari pihak Si-
dhayu, tetapi mereka harus memenuhi tuntutan dari negeri (Majapahit). Di galangan kedelapan (kawolu) mereka harus membayar terasi (hacan, belacan) seberat seribu timbangan
Hasil tambak harus diberikan kepada kita (kerajaan). Kemudian pedagang anggogogondhok yaitu para penyadap nira, mereka juga dibebaskan dari pembayaran arik pundik bermacam-macam cukai. Mereka sekarang harus dikenakan cukai pamuja (cukai kerajaan).”

Bagian belakang :
“Seperdua menurut adat kebiasaan umum bagi warga taman diseluruh negara. Tertanggal 7, bulan tahun syaka 8 // tertanda katang //.”

Thursday, July 8, 2010

Prasasti Airlangga di Krian Kab Sidoarjo Jawa Timur

Prasasti Airlangga di Krian
Di Kabupaten Sidoarjo dijumpai cukup banyak situs kuno. Di antaranya, prasasti peninggalan Raja Airlangga bertahun 959 Masehi. Prasasti beraksara Sansekerta itu berada di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian Kab Sidoarjo (Jawa Timur)

Sira ratu cakrawarta umanun pamanghanikan rat hita pratidina panlingananikan sabhuwanari tan sharta kewala cri maharaja, yawat kawanunann yaca donanya, an kapwa kinalimban juag denira, sahana san byan sarwwa dharma kabeh.
Begitu kutipan tulisan di prasasti yang terbuat dari batu cadas setinggi 2,19 meter, tebal 29 sentimeter, dan lebar 1,16 meter tersebut.
Artinya kira-kira:
“Seorang bisa memutar roda dunia ini, apabila ia membuat dan menemukan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Apabila di dunia ini ada tanda tidak makmur, hanyalah Cri Maharaja [yang bertanggung jawab]. Tujuannya ialah untuk membuat jasa oleh Cri Maharaja agar selalu diperhatikan semua tempat-tempat makam suci.”

Osin [51 tahun] merupakan penjaga alias juru kunci situs ini. Dia bilang, batu prasasti ini bertujuan untuk mengingatkan kepada rakyat [masa itu] bahwa di kawasan Dusun Klagen terdapat tambak luas pemberian Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri.

“Dulu warga mendapatkan lahan dari sang raja untuk dibuat area pertanian dan tambak,” kata Osin.

Masih menurut Osin, prasasti tersebut juga menceritakan bahwa tempo doeloe di wilayah tersebut ada sungai bernama Kalagyan, pecahan dari Sungai Brantas. Sungai tersebut dianggap keramat oleh raja. Dan sang raja menyediakan tambak untuk diolah kawula alit.
“Setelah diberi tambak, raja juga memberi lahan pertanian kepada masyarakat untuk diolah,” tutur Osin.
Berkat tambak dan sawah itu, singkat cerita, rakyat hidup makmur. Hasil tambak dan sawah dapat dinikmati sepenuhnya karena raja tidak meminta pajak sedikit pun.
Osin menambahkan, raja pun tidak memungut pajak dari rakyat. Utang rakyat pun tidak dihitung. “Makanya, rakyat pada masa itu sangat damai dan sejahtera,” ujar Osin.
Namun, kemakmuran rakyat sirna setelah diserang air bah dari Sungai Brantas. Tambak dan sawah rakyat hancur. Puluhan tahun rakyat tidak beroleh hasil karena tidak mampu menutup lubang air bah. Berita ini akhirnya sampai ke Kediri. Sang raja akhirnya mendatangi Kalagyan dan berhasil menutup lubang luapan dari Sungai Brantas.
“Air bah itu dianggap oleh Kerajaan Kadiri sebagai musibah besar bagi rakyatnya. Dan ujian itu sampai kini tetap dirasakan oleh rakyat,” papar Osin, serius.
Ayah tiga anak ini meneruskan jejak Supinah dan Naib [bapak dan kakeknya] menjadi juru kunci situs. Sebab, menurut Osin, prasasti itu berdiri di atas lahan milik orang tuanya secara turun-temurun, 85 x 45 meter.
“Pernah pada 1997 tanah kami ditawar orang Australia dengan harga Rp 3 miliar, tapi saya tidak mau,” papar Osin.
Tepat di bawah prasasti terdapat batu kali ‘misterius’. Percaya atau tidak, menurut Osin, batu anakan itu hidup. Kenapa?
“Tiga tahun lalu tingginya hanya 75 sentimeter, sekarang 85 sentimeter,” ujarnya.
Osin bersama keluarganya yakin bahwa puluhan tahun mendatang akan muncul zaman yang mirip cerita di prasasti itu.
Sumber http://hurek.blogspot.com/2007/05/prasasti-airlangga-di-krian.html