Pada saat menjelang kemelut antara Gresik dan Madura, Bupati Kasepuhan Gresik bernama Joyonegoro (1732-1748) sedang menghadiri undangan ke Kraton Mataram Islam dengan anggota rombongan yang cukup besar. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Madura yang bernama Cakraningrat IV untuk menduduki Gresik pada tahun 1738 M dengan mengerahkan tentara yang dipimpin oleh Demang Dewa Raga dengan menumpang perahu pada malam hari mendarat di pelabuhan Gresik menuju kota berhasil menduduki pendopo kabupaten Gresik dengan menjarah segala yang ada didalam pendopo termasuk istri-istri bupati dan anak Bupati Joyonegoro yang diboyong ke Madura. Selanjutnya Demang Dewa Raga menyatakan dirinya sebagai penguasa Gresik atas nama Cakraningrat IV maka para sentono (abdi dalem) kabupaten Gresik dipaksa cukur rambutnya dan memakai pakaian adat Madura sebagai tanda tunduk patuh termasuk Kyai Ngabei Puspodirjo, Kyai Ngabei Murtorejo, Kyai Ngabei Surodirjo, Kyai Ngebei Joyodirjo dan Demang Mertojoyo.
Mendengar wilayah kekuasaanya dikuasai oleh orang Madura, maka Bupati Joyonegoro segera kembali ke Gresik bersama Bupati Ponorogo Adipati Suradiningrat, waktu itu Bupati Ponorogo yang juga berada di ibukota Kerajaan Mataram Islam merasa simpati dan memberi bala bantuan tentara pada Gresik, akhirnya sampailah rombongan bupati termasuk para pejabat kabupaten Kyai Ngabei Suronegoro, Kyai NgabeiAstronegoro, Kyai Ngabei Wirodirjo, Kyai Ngabei Ronggopuspoarjo, Kyai Ngabei Yudonegoro, Kyai Ngabei Ronggopuspowijoyo, Kyai Ngabei Puspotaruno sampai di Kedungsekar (atau Dusun Sekaran). Selanjutnya rombongan menyusun kekuatan dengan membentuk benteng pertahanan di Dusun Ngabetan.
Sekitar satu bulan lamanya Bupati Joyonegoro bertahan di Ngabetan keberadaan benteng ini diketahui oleh Dewa Raga penguasa Madura di Gresik tersebut menyerbu markas Bupati Gresik maka korban berjatuhan tidak dapat dihindarkan dalam pertempuran tidak ada yang mengalah sehingga diadakan gencatan senjata. Maka Bupati Joyonegoro dan pasukannya bertahan mundur kembali ke Kedungsekar dan membuat benteng pertahanan di Kedungsekar pula. Sementara itu pihak pasukan Madura membuat persinggahan sementara di Dusun Bogomiring.
Datang balabantuan tentara dari pulau Madura ke Bogomiring setelah merasa kuat meninggalkan benteng pertahanan menuju benteng pertahanan Bupati Joyonegoro di Kedungsekar. Pasukan Gresik yang dibantu pasukan Ponorogo mempertahankan Kedungsekar dari serangan tentara Madura. Ternyata pasukan Madura mengalami kesulitan untuk mendekati benteng Kedungsekar karena disekitar benteng adalah areal persawahan ditambah lagi sungai disekitar persawahan mempersulit gerak pasukan Madura. Ketika pasukan Madura mencoba mendekat ke Kedungsekar pasukan Gresik dengan mudah menghadangnya, akhirnya pasukan Madura memutuskan untuk mengurungkan niatnya merebut benteng Kedungsekar.
Kabar kegagalan pasukan Madura untuk menghancurkan benteng Kedungsekar ini membuat penguasa Madura marah maka segera menambah pasukannya namun demikian Joyonegoro dan pasukannya masih terlalu sulit untuk dikalahkan walaupun dengan jumlah pasukan Gresik tidak lebih sedikit dibanding pasukan Madura.
Penguasa Madura selanjutnya mengumpulkan para hario dan panji yang terkenal sebagai jawara-jawara perang. Demang Dewa Raga yang semula hanya memantau dari jauh jalannya perang diperintahkan oleh Cakraningrat IV agar memimpinin langsung perang sedangkan pasukan tidak diperkenankan meninggalkan medan perang kecuali dalam keadaan sakit dan luka-luka. Para hario dan panji berangkat menuju Kedungsekar namun perang sudah berkobar yang mengakibatkan pasuakan Madura kocar-kacir. Terlambat bantuan para jawara ini berpapasan dengan pasukan Madura yang mengotong mayat temannya dan yang sedang terluka. Dalam situasi perang ini maka Bupati Joyonegoro menyimpulkan bahwa pasukan Madura tidak akan berani lagi untuk menyerang benteng pertahanan Kedungsekar. Maka Joyonegoro mempersilahkan pasukannya Ponorogo untuk pulang ke daerahnya sedangkan beliau siap-siap menuju Gresik.
Dalam kondisi persiapan menuju Gresik ternyata pasukan Madura yang dipimpin langsung Demang Dewa Raga beserta para hario dan para panji kembali menyerbu benteng Kedungsekar. Pertempuran hebat tidak dapat dielakkan namun untuk kesekian kalinya pasukan Madura mundur mundur dari Dusun Kedungsekar.
Bupati Joyonegoro masih menganggap kekuatan pasukan Madura masih sangat kuat untuk dapat dilumpuhkan tentaranya maka Joyonegoro beserta pasukannya yang berada di Kedungsekar itu bertekat untuk mengatur stategi lain dengan meninggalkan benteng menyelusuri arah timur menuju Dusun Pakal (wilayah Kabupaten Surabaya) tidak lama kemudian pindah ke Dusun Sememi.
Selama di Dusun Sememi ini ternyata Bupati Joyonegoro mendapat tawaran dari Kumpeni Belanda (VOC) untuk membantunya dalam upaya mengembalikan kekuasaan bupati yang sekarang pendopo sedang diduduki oleh Demang Dewa Raga atas nama Bupati Madura bernama Cakraningrat IV itu. Atas tawaran VOC ini maka disambut gembira oleh Bupati Joyonegoro dengan menerima tawaran tersebut. Selanjutnya dilakukan persiapan menggempur pasukan Cakraningrat IV oleh pasukan koalisi antara Gresik, pasukan Bupati Surabaya dan pasukan Kumpeni Belanda.
Mendengar kekuatan Bupati Joyonegoro semakin kuat maka Demang Dewa Raga dan prajuritnya panik sehingga banyak diantaranya yang melarikan diri. Pada situasi yang memprihatinkan ini penguasa Madura Cakraningrat IV mengumpulkan para begal dan bajak laut berjumlah sekitar seribu orang untuk diberangkatkan ke Gresik membantu pasukan yang dipimpin Demang Dewa Raga, setelah sampai di alon-alon Gresik mereka berbaur dengan pasukan Madura yang seduh lama bertahan di kota kadipaten Gresik.
Pihak Kumpeni Belanda dibawah pimpinan Kolonel Moestich bersama Bupati Surabaya Tumenggung Sosronegoro menyiapkan dua ribu prajurit untuk membantu Bupati Gresik Joyonegoro. Pasukan Surabaya dipimpin oleh Mas Ngabei Prawirosuroyo sedangkan pasukan Kumpeni Belanda sebanyak tiga peleton dipimpin oleh Kolonel Moestich.
Pasukan koalisi ini berkumpul di Dusun Sememi selanjutnya bergerak ke arah barat menuju Dusun Gantang terus bergerak ke arah utara hingga di Dusun Cerme Kidul ternyata pergerakan ke arah utara pasukan koalisi ini diketahui oleh pasukan musuh melalui informasi dari telik sandi mereka.
Setelah mengetahui pergerakan pasukan koalisi mengarah ke kota Gresik dari arah selatan maka Demang Dewa Raga menggerakkan pasukannya dari kota Gresik menuju Dusun Jambu arah barat dari Dusun Tambak Beras. Terjadilah pertempuran sengit dimedan pertempuran Dusun Cerme Kidul. Situasi pertempuran yang menegangkan ini ditambah lagi dengan pasukan Kumpeni Belanda yang dipimpin Kolonel Moestich menembaki pasukan Madura sehingga banyak diantaranya yang berlumuran darah, pertempuran ini berlangsung hingga menjelang malam hari pasukan Madura terdesak terus menerus hingga mundur kembali di Dusun Jambu. Dalam situasi menguasai medan perang maka pasukan koalisi mengejar terus pasukan Madura hingga bertahan mundur sampai ke Dusun Kembangan. Dalam situasi panik ini Demang Dewa Raga melaporkan kondisi yang memprihatinkan tersebut kepada atasannya di Madura yaitu Cakraningrat IV dengan harapan agar berkenan mengirim bantuan lagi pasukan dari Madura.
Sementara menunggu bantuan tentara dari Madura pasukan Dewa Raga diserbu pasukan Koalisi yang sudah sampai di Dusun Kembangan. Dalam penyerbuan ini mengakibatkan Demang Dewa Raga tewas terbunuh sehingga pasukan Madura mundur melarikan dari dari medan perang Kembangan menuju ke alon-alon Gresik yang selanjutnya menuju pelabuhan untuk pulang kembali ke Madura.
Mundurnya pasukan Cakraningrat IV hingga ke pelabuhan maka pendopo Bupati Gresik kembali ke pangkuan Bupati Joyonegoro, setelah banyak keterlibatan pasukan Kumpeni Belanda maka beberapa pejabat penting VOC atau Kumpeni Belanda mulai banyak yang berkunjung ke Gresik kota dagang terkenal ini yang telah lama ingin dikunjungi oleh Belanda.
Showing posts with label Sejarah Lokal. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Lokal. Show all posts
Thursday, September 30, 2010
Saturday, June 5, 2010
Pusat Pemerintahan Airlangga di Lamongan?
JIKA kebanyakan temuan situs sejarah atau prasasti yang ada di Lamongan menunjukkan peninggalan zaman Airlangga, apa tidak mungkin kerajaan Kahuripan dulunya ada di Lamongan? Ini perlu penelitian dan penggalian sejarah secara sabar dan cermat.
Selain Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Mojokerto yang selama ini terus menggali peninggalan sejarah, ada seorang warga Lamongan juga sedang melakukan penelusuran tentang kemungkinan kebenaran terkait kerajaan Airlangga ini. Dialah Supriyo, yang tidak lain warga Desa Siser, Kecamatan Laren. Sejak di desanya ditemukan candi, selama berbulan-bulan dia melakukan pelacakan di lapangan. Dia tidak lelah berpetualang untuk menelusuri keterkaitan situs atas artefak yang ada di Lamongan. Yaitu, dengan merangkai dalam sebuah perjalanan sejarah yang tertulis di batu atau melacak melalui internet. ''Di internet semua bisa kita cari, termasuk sejarah kerajaan dan peninggalannya. Bahkan, ada beberapa tentang sejarah itu hanya bisa dilihat di website mancanegara,'' katanya.
Supriyo yakin kebenaran Lamongan adalah salah satu dari tempat kerajaan Kahuripan yang dipimpin Prabu Airlangga. Selain dia meyakini dari tulisan Dr Ninie Soesantie, arkeolog Universitas Indonesia yang menyebutkan Lamongan menyimpan data yang luar biasa mengenai Prabu Airlangga. Bahwa, Airlangga itu raja besar, malah lebih besar dari Hayam Wuruk.
Jika para arkeolog menyajikan dengan tulisan, Supriyo melacaknya dengan menelusuri nama-nama tempat yang selama ini pernah disebut dalam buku sejarah nasional. Dicontohkan, Prabu Airlangga disebutkan pernah melarikan diri ke Pataan. Selama ini tidak pernah disebutkan Pataan itu dimana. ''Tapi, berdasarkan prasasti yang ada di Lamongan, khususnya yang ditemukan di Pataan menyebutkan bahwa di prasasti tersebut tertulis sebagai pemerintahan sementara zaman Airlangga,'' katanya.
Ditegaskan Supriyo, dari sebanyak 42 prasasti batu di Lamongan diperkirakan berasal dari zaman sebelum munculnya Kerajaan Majapahit. Tapi, juga tidak pernah disebutkan atau ditemukan adanya keterangan prasasti pada era Singasari. Beberapa prasasti seperti prasasti pamwatan (Pamotan), prasasti Pasar Legi (Sendang Rejo, dulunya satu desa), prasasti Puncakwangi, Prasasti Wotan (Slahar Wotan), semuanya ada di Lamongan, semuanya jelas teridentifikasi sebagai prasasti-prasasti yang di keluarkan oleh Prabu Airlangga. ''Sehingga, tidak terlalu salah kalau kita memerkirakan atau meyakini bahwa Airlangga bisa jadi memerintah di Lamongan,'' kata Supriyo. (idi/wid)
JAWA POS RADAR BOJONEGORO [ Minggu, 25 April 2010 ]
Selain Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Mojokerto yang selama ini terus menggali peninggalan sejarah, ada seorang warga Lamongan juga sedang melakukan penelusuran tentang kemungkinan kebenaran terkait kerajaan Airlangga ini. Dialah Supriyo, yang tidak lain warga Desa Siser, Kecamatan Laren. Sejak di desanya ditemukan candi, selama berbulan-bulan dia melakukan pelacakan di lapangan. Dia tidak lelah berpetualang untuk menelusuri keterkaitan situs atas artefak yang ada di Lamongan. Yaitu, dengan merangkai dalam sebuah perjalanan sejarah yang tertulis di batu atau melacak melalui internet. ''Di internet semua bisa kita cari, termasuk sejarah kerajaan dan peninggalannya. Bahkan, ada beberapa tentang sejarah itu hanya bisa dilihat di website mancanegara,'' katanya.
Supriyo yakin kebenaran Lamongan adalah salah satu dari tempat kerajaan Kahuripan yang dipimpin Prabu Airlangga. Selain dia meyakini dari tulisan Dr Ninie Soesantie, arkeolog Universitas Indonesia yang menyebutkan Lamongan menyimpan data yang luar biasa mengenai Prabu Airlangga. Bahwa, Airlangga itu raja besar, malah lebih besar dari Hayam Wuruk.
Jika para arkeolog menyajikan dengan tulisan, Supriyo melacaknya dengan menelusuri nama-nama tempat yang selama ini pernah disebut dalam buku sejarah nasional. Dicontohkan, Prabu Airlangga disebutkan pernah melarikan diri ke Pataan. Selama ini tidak pernah disebutkan Pataan itu dimana. ''Tapi, berdasarkan prasasti yang ada di Lamongan, khususnya yang ditemukan di Pataan menyebutkan bahwa di prasasti tersebut tertulis sebagai pemerintahan sementara zaman Airlangga,'' katanya.
Ditegaskan Supriyo, dari sebanyak 42 prasasti batu di Lamongan diperkirakan berasal dari zaman sebelum munculnya Kerajaan Majapahit. Tapi, juga tidak pernah disebutkan atau ditemukan adanya keterangan prasasti pada era Singasari. Beberapa prasasti seperti prasasti pamwatan (Pamotan), prasasti Pasar Legi (Sendang Rejo, dulunya satu desa), prasasti Puncakwangi, Prasasti Wotan (Slahar Wotan), semuanya ada di Lamongan, semuanya jelas teridentifikasi sebagai prasasti-prasasti yang di keluarkan oleh Prabu Airlangga. ''Sehingga, tidak terlalu salah kalau kita memerkirakan atau meyakini bahwa Airlangga bisa jadi memerintah di Lamongan,'' kata Supriyo. (idi/wid)
JAWA POS RADAR BOJONEGORO [ Minggu, 25 April 2010 ]
Sunday, November 29, 2009
Perjuangan Kadet Soewoko di Lamongan (Suwandi, S,Pd.,M.Pd.)
Sejarah singkat Pejuang Kadet Soewoko
http://lamongan-kota.blogspot.com/search/label/Pahlawan%20Lamongan
Pada suatu saat di Desa Gumantuk (Kec. Sekaran Kab. Lamongan) dan saat ini perkembangan wilayah sudah masuk dalam Kecamatan Maduran Kab. Lamongan dan pada hari minggu legi tanggal 9 Maret 1949 sekitar jam 17.00 sore telah terjadi pertempuran antara regu Kadet Soewoko yang terdiri dari 7 orang menyerang 1 peleton pasukan Belanda yang terdiri 37 orang yang baru selesai mengangkat kendaraan powernya yang terperosok kedalam sungai ditepi sawah, dalam pertempuran ini telah timbul korban-korban dari kedua belah pihak dari regu Kadet Soewoko yang gugur 4 orang sebagai pahlawan bangsa
Pahlawan bangsa yang berasal dari daerah di Kabupaten Lamongan :
1. KadetSoewoko (dipatungkan)
2. W i d o d o
3. K a e r i
4. L a s i b a n
Menurut berita, Kadet Soewoko ketika terdesak dan dipaksa menyerahkan diri, tiba-tiba melemparkan granat nanasnya sehingga dia dan rekannya rela berkorban. Dan tentara Belanda yang disekitarnya juga tewas.
http://lamongan-kota.blogspot.com/search/label/Pahlawan%20Lamongan
Pada suatu saat di Desa Gumantuk (Kec. Sekaran Kab. Lamongan) dan saat ini perkembangan wilayah sudah masuk dalam Kecamatan Maduran Kab. Lamongan dan pada hari minggu legi tanggal 9 Maret 1949 sekitar jam 17.00 sore telah terjadi pertempuran antara regu Kadet Soewoko yang terdiri dari 7 orang menyerang 1 peleton pasukan Belanda yang terdiri 37 orang yang baru selesai mengangkat kendaraan powernya yang terperosok kedalam sungai ditepi sawah, dalam pertempuran ini telah timbul korban-korban dari kedua belah pihak dari regu Kadet Soewoko yang gugur 4 orang sebagai pahlawan bangsa
Pahlawan bangsa yang berasal dari daerah di Kabupaten Lamongan :
1. KadetSoewoko (dipatungkan)
2. W i d o d o
3. K a e r i
4. L a s i b a n
Menurut berita, Kadet Soewoko ketika terdesak dan dipaksa menyerahkan diri, tiba-tiba melemparkan granat nanasnya sehingga dia dan rekannya rela berkorban. Dan tentara Belanda yang disekitarnya juga tewas.
Salah satu pahlawan kemerdekaan yang cukup dikenal di Lamongan yakni Kadet Soewoko. Dia dikenal dengan kisah perjuangannya yang sangat heroik ketika menghadapi agresi Belanda ke-II pada 1949.Soewoko sebenarnya bukan asli Lamongan, tetapi kelahiran Desa Lumbangsari Kecamatan Krebet Malang pada 1928. Setelah lulus sekolah kadet di Malang, dia kemudian ditugaskan menjadi komandan regu I seksi I kompi I pasukan tamtama Kodim Lamongan.
Dia meninggal pada 9 Maret 1949 dalam suatu pertempuran yang sengit melawan tentara Belanda di wilayah Desa Gumantuk Kecamatan Sekaran. Berarti dia meninggal pada usia yang baru 21 tahun dan belum menikah.
Berdasarkan catatan sejarah Kodim 0812 Lamongan, kisah nyata yang heroik perjuangan Kadet Soewoko tersebut terjadi pada hari Minggu, 9 Maret 1949 menjelang siang. Ketika sedang beristirahat di sebuah langgar di Desa/Kecamatan Laren, regu Kadet Soewoko mendapat laporan penduduk kalau ada truk tentara Belanda yang terperosok di parit wilayah Desa Parengan (dulu masuk Kecamatan Sekaran, sekarang masuk Kecamatan Maduran). Truk tersebut mengangkut 12 serdadu Belanda.
Saat itu anggota regu Soewoko berjumlah delapan orang, namun hanya memiliki 7 senjata api peninggalan Jepang. Mereka kemudian sepakat akan menyerang tentara Belanda tersebut. Satu anggotanya bernama Soemarto ditinggal karena jumlah senjata hanya tujuh.Begitu mendekati sasaran tembak, tiba-tiba datang truk power wagon berisi penuh serdadu Belanda untuk membantu truk yang terperosok parit itu. Sehingga kekuatan Belanda menjadi berlipat sekitar 37 orang.
Meski kekuatan lawan berlipat, ternyata regu Soewoko tidak nyiut nyalinya. Mereka tetap melakukan serangan gencar. Beberapa serdadu Belanda langsung terjungkal ditembak regu Soewoko.Dua orang anggota regu berhasil menerobos kepungan musuh, satu orang pura-pura mati dan nahas bagi Soewoko yang tertembak kedua bahunya dan tergeletak tidak mampu melakukan perlawanan.
Beberapa serdadu Belanda kemudian mendekati dan menanyakan namanya dengan bentakan. Soewoko pada saat itu mengaku bernama Soewignyo. Dia kemudian diajak ikut ke pos Belanda di Sukodadi tetapi tidak mau. Dia bahkan berkata ''Saya tidak mau menyerah, bunuh saya..!. Serdadu Belanda marah, kemudian menusuk dada kiri Soewoko dan ditembak pipinya sehingga langsung gugur. Dia bersama tiga anggota regunya yang lain yang gugur dalam pertempuran itu langsung dimakamkan oleh warga setempat di desa itu tanpa dimandikan karena dinilai mati syahid. Adegan heroik itu disaksikan anggota regunya yang pura-pura meninggal. Jenazah Kadet Soewoko bersama tiga temannya tersebut kemudian dipindah ke taman makam pahlawan Kusuma Bangsa Lamongan.
Dia meninggal pada 9 Maret 1949 dalam suatu pertempuran yang sengit melawan tentara Belanda di wilayah Desa Gumantuk Kecamatan Sekaran. Berarti dia meninggal pada usia yang baru 21 tahun dan belum menikah.
Berdasarkan catatan sejarah Kodim 0812 Lamongan, kisah nyata yang heroik perjuangan Kadet Soewoko tersebut terjadi pada hari Minggu, 9 Maret 1949 menjelang siang. Ketika sedang beristirahat di sebuah langgar di Desa/Kecamatan Laren, regu Kadet Soewoko mendapat laporan penduduk kalau ada truk tentara Belanda yang terperosok di parit wilayah Desa Parengan (dulu masuk Kecamatan Sekaran, sekarang masuk Kecamatan Maduran). Truk tersebut mengangkut 12 serdadu Belanda.
Saat itu anggota regu Soewoko berjumlah delapan orang, namun hanya memiliki 7 senjata api peninggalan Jepang. Mereka kemudian sepakat akan menyerang tentara Belanda tersebut. Satu anggotanya bernama Soemarto ditinggal karena jumlah senjata hanya tujuh.Begitu mendekati sasaran tembak, tiba-tiba datang truk power wagon berisi penuh serdadu Belanda untuk membantu truk yang terperosok parit itu. Sehingga kekuatan Belanda menjadi berlipat sekitar 37 orang.
Meski kekuatan lawan berlipat, ternyata regu Soewoko tidak nyiut nyalinya. Mereka tetap melakukan serangan gencar. Beberapa serdadu Belanda langsung terjungkal ditembak regu Soewoko.Dua orang anggota regu berhasil menerobos kepungan musuh, satu orang pura-pura mati dan nahas bagi Soewoko yang tertembak kedua bahunya dan tergeletak tidak mampu melakukan perlawanan.
Beberapa serdadu Belanda kemudian mendekati dan menanyakan namanya dengan bentakan. Soewoko pada saat itu mengaku bernama Soewignyo. Dia kemudian diajak ikut ke pos Belanda di Sukodadi tetapi tidak mau. Dia bahkan berkata ''Saya tidak mau menyerah, bunuh saya..!. Serdadu Belanda marah, kemudian menusuk dada kiri Soewoko dan ditembak pipinya sehingga langsung gugur. Dia bersama tiga anggota regunya yang lain yang gugur dalam pertempuran itu langsung dimakamkan oleh warga setempat di desa itu tanpa dimandikan karena dinilai mati syahid. Adegan heroik itu disaksikan anggota regunya yang pura-pura meninggal. Jenazah Kadet Soewoko bersama tiga temannya tersebut kemudian dipindah ke taman makam pahlawan Kusuma Bangsa Lamongan.
Tuesday, November 10, 2009
PAMOTAN (SAMBENG-LAMONGAN) DAERAH SWATANTRA ZAMAN MAJAPAHIT
Pada zaman dahulu Lamongan merupakan Pintu Gerbang ke Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Panjalu, Kerajaan Jenggala, Kerajaan Singosari atau Kerajaan Mojopahit, berada di Ujung Galuh, Canggu dan kambang Putih ( Tuban). Setelah itu tumbuh pelabuhan Sedayu Lawas dan Gujaratan (Gresik), merupakan daerah amat ramai , sebagai penyambung hubungan dengan Kerajaan luar Jawa bahkan luar Negeri.
Zaman Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur, Di Lamongan berkembang Kerajaan kecil Malawapati ( kini dusun Melawan desa Kedung Wangi kecamatan Sambeng ) dipimpin Raja Agung Angling darma dibantu Patih Sakti Batik Maadrim termasuk kawasan Bojonegoro kuno. Saat ini masih tersimpan dengan baik, Sumping dan Baju Anglingdarma didusun tersebut. Di sebelah barat berdiri Kerajaan Rajekwesi di dekat kota Bojonegoro sekarang.
Pada waktu Kerajaan Majapahit dipimpin Raja Hayam Wuruk (1350 -1389) kawasan kanan kiri Bengawan Solo menjadi daerah Pardikan. Merupakan daerah penyangga ekonomi Mojopahit dan jalan menuju pelabuhan Kambang Putih. Wilayah ini disebut Daerah Swatantra Pamotan dibawah kendali Bhre Pamotan atau Sri Baduga Bhrameswara paman Raja Hayam Wuruk ( Petilasan desa Pamotan kecamatan Sambeng ), sebelumnya
Di bawah kendali Bhre Wengker ( Ponorogo ). Daerah swatantra Pamotan meliputi 3 kawasan pemerintahan Akuwu , meliputi Daerah Biluluk (Bluluk) Daerah Tenggulunan (Tenggulun Solokuro) , dan daerah Pepadhangan (Padangan Bojonegoro).
Menurut buku Negara Kertagama telah berdiri pusat pengkaderan para cantrik yang mondok di Wonosrama Budha Syiwa bertempat di Balwa (desa Blawi Karangbinangun) , di Pacira ( Sendang Duwur Paciran), di Klupang (Lopang Kembangbahu) dan di Luwansa ( desa Lawak Ngimbang). Desa Babat kecamatan Babat ditengarahi terjadi perang Bubat, sebab saat itu babat salah satu tempat penyeberangan diantar 42 temapt sepanjang aliran bengawan Solo. Berita ini terdapat dalam Prasasti Biluluk yang tersimpan di Musium Gajah Jakarta, berupa lempengan tembaga serta 39 gurit di Lamongan yang tersebar di Pegunungan Kendeng bagian Timur dan beberapa temapt lainnya.
Menjelang keruntuhan Mojopahit tahun 1478M, Lamongan saat itu dibawah kekuasaaan Keerajaan Sengguruh (Singosari) bergantian dengan Kerajaan Kertosono (Nganjuk) dikenal dengan kawasan Gunung Kendeng Wetan diperintah oleh Demung, bertempat disekitar Candi Budha Syiwa di Mantup. Setelah itu diperintah Rakrian Rangga samapi 1542M ( petilasan di Mushalla KH.M.Mastoer Asnawi kranggan kota Lamongan ). Kekuasaan Mojopahit di bawah kendali Ario Jimbun (Ariajaya) anak Prabu Brawijaya V di Galgahwangi yang berganti Demak Bintoro bergelar Sultan Alam Akbar Al Fatah ( Raden Patah ) 1500 – 1518, lalu diganti anaknya, Adipati Unus 1518 -1521 M , Sultan Trenggono 1521 – 1546 M.
Dalam mengembangkan ambisinya, sultan Trenggono mengutus Sunan Gunung Jati ( Fatahilah ) ke wilayah barat untuk menaklukkan Banten, Jayakarta, danCirebon. Ke timur langsung dpimpin Sultan sendiri menyerbu Lasem, Tuban dan Surabaya sebelum menyerang Kerajaan Blambangan ( Panarukan). Pada saat menaklukkan Surabaya dan sekitarnya, pemerintahan Rakryan Rangga Kali Segunting ( Lamong ), ditaklukkan sendiri oleh Sultan Trenggono 1541 . Namun tahun 1542 terjadi pertempuran hebat antara pasukan Rakkryan Kali Segunting dibantu Kerajaan sengguruh (Singosari) dan Kerajaan Kertosono Nganjuk dibawah pimpinan Ki Ageng Angsa dan Ki Ageng Panuluh, mampu ditaklukkan pasukan Kesultanan Demak dipimpin Raden Abu Amin, Panji Laras, Panji Liris. Pertempuran sengit terjadi didaerah Bandung, Kalibumbung, Tambakboyo dan sekitarnya.
Tahun 1543M, dimulailah Pemerintahan Islam yang direstui Sunan Giri III, oleh Sultan Trenggono ditunjuklah R.Abu Amin untuk memimpin Karanggan Kali Segunting, yang wilayahnya diapit kali Lamong dan kali Solo. Wilayah utara kali Solo menjadi wilayah Tuban, perdikan Drajat, Sidayu, sedang wilayah selatan kali Lamong masih menjadi wilayah Japanan dan Jombang. Tahun 1556 M R.Abu Amin wafat digantikan oleh R.Hadi yang masih paman Sunan Giri III sebagai Rangga Hadi 1556 -1569M Tepat hari Kamis pahing 10 Dzulhijjah 976H atau bertepatan 26 mei 1569M, Rangga Hadi dilantik menjadi Tumenggung Lamong bergelar Tumenggung Surajaya ( Soerodjojo) hingga tahun 1607 dan dimakamkan di Kelurahan Tumenggungan kecamatan Lamongan dikenal dengan Makam Mbah Lamong.
Zaman Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur, Di Lamongan berkembang Kerajaan kecil Malawapati ( kini dusun Melawan desa Kedung Wangi kecamatan Sambeng ) dipimpin Raja Agung Angling darma dibantu Patih Sakti Batik Maadrim termasuk kawasan Bojonegoro kuno. Saat ini masih tersimpan dengan baik, Sumping dan Baju Anglingdarma didusun tersebut. Di sebelah barat berdiri Kerajaan Rajekwesi di dekat kota Bojonegoro sekarang.
Pada waktu Kerajaan Majapahit dipimpin Raja Hayam Wuruk (1350 -1389) kawasan kanan kiri Bengawan Solo menjadi daerah Pardikan. Merupakan daerah penyangga ekonomi Mojopahit dan jalan menuju pelabuhan Kambang Putih. Wilayah ini disebut Daerah Swatantra Pamotan dibawah kendali Bhre Pamotan atau Sri Baduga Bhrameswara paman Raja Hayam Wuruk ( Petilasan desa Pamotan kecamatan Sambeng ), sebelumnya
Di bawah kendali Bhre Wengker ( Ponorogo ). Daerah swatantra Pamotan meliputi 3 kawasan pemerintahan Akuwu , meliputi Daerah Biluluk (Bluluk) Daerah Tenggulunan (Tenggulun Solokuro) , dan daerah Pepadhangan (Padangan Bojonegoro).
Menurut buku Negara Kertagama telah berdiri pusat pengkaderan para cantrik yang mondok di Wonosrama Budha Syiwa bertempat di Balwa (desa Blawi Karangbinangun) , di Pacira ( Sendang Duwur Paciran), di Klupang (Lopang Kembangbahu) dan di Luwansa ( desa Lawak Ngimbang). Desa Babat kecamatan Babat ditengarahi terjadi perang Bubat, sebab saat itu babat salah satu tempat penyeberangan diantar 42 temapt sepanjang aliran bengawan Solo. Berita ini terdapat dalam Prasasti Biluluk yang tersimpan di Musium Gajah Jakarta, berupa lempengan tembaga serta 39 gurit di Lamongan yang tersebar di Pegunungan Kendeng bagian Timur dan beberapa temapt lainnya.
Menjelang keruntuhan Mojopahit tahun 1478M, Lamongan saat itu dibawah kekuasaaan Keerajaan Sengguruh (Singosari) bergantian dengan Kerajaan Kertosono (Nganjuk) dikenal dengan kawasan Gunung Kendeng Wetan diperintah oleh Demung, bertempat disekitar Candi Budha Syiwa di Mantup. Setelah itu diperintah Rakrian Rangga samapi 1542M ( petilasan di Mushalla KH.M.Mastoer Asnawi kranggan kota Lamongan ). Kekuasaan Mojopahit di bawah kendali Ario Jimbun (Ariajaya) anak Prabu Brawijaya V di Galgahwangi yang berganti Demak Bintoro bergelar Sultan Alam Akbar Al Fatah ( Raden Patah ) 1500 – 1518, lalu diganti anaknya, Adipati Unus 1518 -1521 M , Sultan Trenggono 1521 – 1546 M.
Dalam mengembangkan ambisinya, sultan Trenggono mengutus Sunan Gunung Jati ( Fatahilah ) ke wilayah barat untuk menaklukkan Banten, Jayakarta, danCirebon. Ke timur langsung dpimpin Sultan sendiri menyerbu Lasem, Tuban dan Surabaya sebelum menyerang Kerajaan Blambangan ( Panarukan). Pada saat menaklukkan Surabaya dan sekitarnya, pemerintahan Rakryan Rangga Kali Segunting ( Lamong ), ditaklukkan sendiri oleh Sultan Trenggono 1541 . Namun tahun 1542 terjadi pertempuran hebat antara pasukan Rakkryan Kali Segunting dibantu Kerajaan sengguruh (Singosari) dan Kerajaan Kertosono Nganjuk dibawah pimpinan Ki Ageng Angsa dan Ki Ageng Panuluh, mampu ditaklukkan pasukan Kesultanan Demak dipimpin Raden Abu Amin, Panji Laras, Panji Liris. Pertempuran sengit terjadi didaerah Bandung, Kalibumbung, Tambakboyo dan sekitarnya.
Tahun 1543M, dimulailah Pemerintahan Islam yang direstui Sunan Giri III, oleh Sultan Trenggono ditunjuklah R.Abu Amin untuk memimpin Karanggan Kali Segunting, yang wilayahnya diapit kali Lamong dan kali Solo. Wilayah utara kali Solo menjadi wilayah Tuban, perdikan Drajat, Sidayu, sedang wilayah selatan kali Lamong masih menjadi wilayah Japanan dan Jombang. Tahun 1556 M R.Abu Amin wafat digantikan oleh R.Hadi yang masih paman Sunan Giri III sebagai Rangga Hadi 1556 -1569M Tepat hari Kamis pahing 10 Dzulhijjah 976H atau bertepatan 26 mei 1569M, Rangga Hadi dilantik menjadi Tumenggung Lamong bergelar Tumenggung Surajaya ( Soerodjojo) hingga tahun 1607 dan dimakamkan di Kelurahan Tumenggungan kecamatan Lamongan dikenal dengan Makam Mbah Lamong.
Friday, November 6, 2009
PRASASTI BILULUK DI LAMONGAN
Prasasti Biluluk, prasasti ini dikeluarkan antara tahun 1288-1317 Saka (1366-1397 M) ditemukan di Kecamatan Bluluk Kabupaten Lamongan berupa tulisan yang digoreskan pada lempengan tembaga. Prasasti itu berasal dari masa Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M) dan Wikramawardhana (1389-1429 M). Prasasti itu merupakan surat yang berisi titah raja yang ditujukan keluarga raja yang memerintah di Biluluk dan Tenggulunan. Berdasarkan penafsiran oleh Tim Peneliti buku Sejarah Sunan Drajat disebutkan bahwa Bluluk pada saai ini memang masuk kawasan Lamongan, sedangkan Tenggulunan kemungkinan sekarang masuk kawasan Kecamatan Solokuro. Tenggulunan dimungkinkan juga masuk kawasan Gresik, tepatnya berada di muara Sungai Lamong. (Tim Peneliti, 1998: 72). Tenggulunan di kawasan Gresik dimungkinkan terkait dengan prasasti tersebut, karena sungai Lamong merupakan salah satu jalur perdagangan yang menghubungkan antara pelabuhan Gresik dengan wilayah kekuasaan Majapahit. Adapun kandungan isi dari prasasti Biluluk dapat disimpilkan antara lain:
Orang-orang Biluluk diberi wewenang untuk menimbah air garam pada saat acara pemujaan sekali setahun, sebagaimana yang telah mereka miliki sejak dahulu, asal tidak diperdagangkan. Apabila diperdagangkan dikenakan cukai.
Rakyat Biluluk dan Tenggulunan memperoleh perlindungan dan restu raja, sehingga siapa saja yang merugikan mereka akan terkena supata atau kutukan, yakni akan menderita kecelakaan, antara lain: apabila mereka di padang tegalan akan digigit ular berbisa, apabila masuk hutan akan diterkam harimau, apabila masuk rumah akan diselubungi dan dimakan api, dimana saja akan sengsara, celaka, dan mati.
Memberi kebebasan pada rakyat Biluluk untuk melakukan berbagai pekerjaan, seperti berdagang, membuat arak, memotong, mencuci, mewarna, membuat tepung, gula aren, atau tebu, dan membakar kapur tanpa dipungut beaya.
Status daerah perdikan Biluluk dan Tenggulunan ditingkatkan dari daerah sima menjadi daerah swatantra. Sebagai daerah swatantra atau daerah yang bisa mengurusi rumah tangganya sendiri, rakyatnya dicintai raja, mereka bebas dari kewajiban membayar upeti dan memberi jamuan makan serta bekal pada petugas kerajaan yang sedang lewat atau singgah. Mereka juga dibebaskan membayar berbagai macam cukai, seperti perkawinan, dukun bayi, pembakaran jenazah, upacara kematian (nyadran), angkutan, pendirian rumah, pertunjukan, penitipan barang dagangan berupa cabai, kapulaga, besi, kuali besi, rotan, dan kapas.
Petunjuk bahwa daerah Biluluk dan Tenggulunan diberi status swatantra agar tidak lagi dikuasai Sang Katrini (pejabat tinggi negara), melainkan mempunyai kekuasaan terhadap tukang dan pegawai dengan hak-hak pengaturan perekonomian, keamanan, dan ketentraman.
Kegiatan perekonomian di Kerajaan Majapahit umumnya, di Biluluk dan Tenggulunan khususnya sangat penting artinya bagi negara dan penduduk setempat. Barang-barang dagangan di dua daerah ini yang menonjol antara lain: garam, gula kelapa atau aren, dan dendeng. Dendeng pada masa itu tergolong makanan mewah dan termasuk barang dagangan yang mahal. Bagi rakyat Biluluk dan Tenggulunan, perdagangan dendeng sangat menguntungkan. Usaha yang juga berkembang di dua daerah ini adalah pencelupan atau pewarnaan kain, penggilingan beras atau tepung, dan makan-makanan dari tepung umbi atau kentang.
Orang-orang Biluluk diberi wewenang untuk menimbah air garam pada saat acara pemujaan sekali setahun, sebagaimana yang telah mereka miliki sejak dahulu, asal tidak diperdagangkan. Apabila diperdagangkan dikenakan cukai.
Rakyat Biluluk dan Tenggulunan memperoleh perlindungan dan restu raja, sehingga siapa saja yang merugikan mereka akan terkena supata atau kutukan, yakni akan menderita kecelakaan, antara lain: apabila mereka di padang tegalan akan digigit ular berbisa, apabila masuk hutan akan diterkam harimau, apabila masuk rumah akan diselubungi dan dimakan api, dimana saja akan sengsara, celaka, dan mati.
Memberi kebebasan pada rakyat Biluluk untuk melakukan berbagai pekerjaan, seperti berdagang, membuat arak, memotong, mencuci, mewarna, membuat tepung, gula aren, atau tebu, dan membakar kapur tanpa dipungut beaya.
Status daerah perdikan Biluluk dan Tenggulunan ditingkatkan dari daerah sima menjadi daerah swatantra. Sebagai daerah swatantra atau daerah yang bisa mengurusi rumah tangganya sendiri, rakyatnya dicintai raja, mereka bebas dari kewajiban membayar upeti dan memberi jamuan makan serta bekal pada petugas kerajaan yang sedang lewat atau singgah. Mereka juga dibebaskan membayar berbagai macam cukai, seperti perkawinan, dukun bayi, pembakaran jenazah, upacara kematian (nyadran), angkutan, pendirian rumah, pertunjukan, penitipan barang dagangan berupa cabai, kapulaga, besi, kuali besi, rotan, dan kapas.
Petunjuk bahwa daerah Biluluk dan Tenggulunan diberi status swatantra agar tidak lagi dikuasai Sang Katrini (pejabat tinggi negara), melainkan mempunyai kekuasaan terhadap tukang dan pegawai dengan hak-hak pengaturan perekonomian, keamanan, dan ketentraman.
Kegiatan perekonomian di Kerajaan Majapahit umumnya, di Biluluk dan Tenggulunan khususnya sangat penting artinya bagi negara dan penduduk setempat. Barang-barang dagangan di dua daerah ini yang menonjol antara lain: garam, gula kelapa atau aren, dan dendeng. Dendeng pada masa itu tergolong makanan mewah dan termasuk barang dagangan yang mahal. Bagi rakyat Biluluk dan Tenggulunan, perdagangan dendeng sangat menguntungkan. Usaha yang juga berkembang di dua daerah ini adalah pencelupan atau pewarnaan kain, penggilingan beras atau tepung, dan makan-makanan dari tepung umbi atau kentang.
Subscribe to:
Posts (Atom)