Wednesday, September 28, 2011

Dasman Djamaludin menulis tentang Sumber Sekunder




















Ketika cucu Abdul Latief Hendradiningrat, pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1945, Arif Wicaksono Hendradiningrat mengajak saya agar sebagai sejarawan universitas sekelas UI seharusnya tidak perlu meragukan lagi kebenaran fakta sejarah mengenai pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1945, yaitu kakeknya dan Soehoed., saya hanya terdiam lama. Apalagi ditambah kalimat “Keluarga kami, sudah lama bersabar atas pembohongan publik oleh ILYAS KARIM. Puncaknya yaitu ketika diadakan acara oleh stasiun TVONE di Gedung Juang 31, padahal disitu ada ruangan yang memuat siapa pelaku dan saksi sejarah mengenai Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945.”
 Mengapa saya terdiam lama? Karena saya mengalami hal-hal sebagai berikut:
  1. Saya mendengar sendiri dari Burhanuddin Muhammad Diah (B.M.Diah) ketika menulis buku beliau: Butir-Butir Padi B.M.Diah (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), betapa geramnya beliau membaca Buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, yang menganggap yang merumuskan materi Pancasila ialah Mr.Muh.Yamin. Buku ini bukan main-main diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 1975 dalam enam jilid dan penulisnya Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo, Dr.Marwati Djoened Poesponegoro dan Dr.Nugroho Notosusanto. Bahkan menurut berita, Presiden Soeharto waktu itu memerintahkan agar buku tersebut dipergunakan di sekolah-sekolah pemerintah. Menurut B.M.Diah sejarawan-sejarawan Indonesia masih dipengaruhi sejarawan Barat atau didominasi pandangan sejarawan Barat, karena menurut F.A. Sutjipto dalam kata pengantarnya pada jilid IV, bahwa sebagian besar sumber adalah sumber sekunder walaupun di sana sini juga dilakukan sumber primer. Sehingga saya menganggap ini sebuah kekeliruan besar, karena kelihatannya sumber primer B.M.Diah tidak terlalu diperhitungkan dalam menyusun Buku Sejarah Nasional ini, sementara sumber primernya masih ada (hidup).
  2. Tentang buku yang saya tulis sendiri: Butir-butir Padi B.M.Diah (1992), meski Toeti Kakiailatu menuliskannya kembali dengan judul B.M.Diah Wartawan Serba Bisa tahun 1997, sumber primer sama yaitu B.M.Diah tetapi situasi dan kondisi berbeda. Hal ini terlihat dari komentar Wartawan Senior H.Rosihan Anwar ketika meresensi buku Toeti Kakiailatu di dalam Majalah Ggatra, 13 September 1997 halaman 130 bahwa: “Toeti Kaiailatu, mantan wartawan Tempo, menulis biografi B.M.Diah Wartawan Serba Bisa (1997).Lima tahun yang lalu B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, buku yang menguraikan riwayat hidup Diah, sebagaimana diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin. Maka, kedua buku itu mengandung bahan yang kurang lebih sama.” Di bahagian lain komentarnya Rosihan Anwar mengatakan:.....”Kendati dalam buku ini saya mendeteksi berbagai ketidakcermatan dalam keterangan Diah—yang diwawancarai oleh Toeti ketika mulai sakit-sakitan dan ingatannya tidak lagi begitu sempurna.” Jadi sumber primer yang sama, bisa juga mempengaruhi informasi ketika sumber itu sudah sakit-sakitan. Saya mewawancarai B.M.Diah ketika usianya 75 tahun dan masih sehat, baik lahir maupun bathin.
  3. Ketika saya berkunjung ke rumah H.Asnawi Mangku Alam, mantan Gubernur Sumatera Selatan, hari Minggu, 12 Januari 1997 beliau menunjukkan buku nya atas gugatan buku H.Alamsyah Ratu Perwiranegara berjudul: “ Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu” yang ditulisnya tahun 1996 dan telah diberikannya kepada Alamsjah tetapi tidak memperoleh jawaban. Barulah setelah saya menulis di surat pembaca di Tabloid Swadesi edisi No.1483 Tahun 1997, Alamsjah menjawab di Majalah Tajuk No.9 Tahun I,Maret 1997 halaman 54 – 57. Saya hanya ingin menyatakan bahwa di masa yang sama di mana nara sumber primernya ada, masih ada perbedaaan dalam menuliskan sejarah. Apalagi apabila sumber primernya tidak ada? Itulah sebabnya saya menahan diri dulu untuk menyatakan setuju dan percaya karena masih ada orang lain mengklaim dialah yang mengibarkan bendera pusaka tanggal 17 Agustus 1945. Jadi saya memberi kesempatan kepada masing-masing pihak, sekarang yang saya tahu masih tiga orang, membuktikan sungguh-sungguh data siapa yang otentik, shahih dan dapat dipercaya. Ya, mau tidak mau, ketiganya harus duduk di satu meja. Jadi melalui proses yang panjang, apalagi kalau membuktikan sumber sekunder, ya ingat lagi kata Pak Asvi, siapa sejarawannya, dan di mana dia bekerja ikut mempengaruhi tulisannya.

Latief Hendraningrat Pengibar Bendera Pusaka


Abdul Latief Hendraningrat (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). adalah seorang prajurit PETA (Pembela Tanah air) berpangkat Cudanco. Dia adalah pengerek bendera Sang Saka Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56. Untuk ini Latif didampingi Suhud seorang anggota Pelopor. Pasukan PETA dimana Latief berada, bermarkas di bekas markas pasukan kavaleri Belanda di Kampung Jaga Monyet, yang kini bernama jalan Suryopranoto di depan Harmoni. Setelah bergabung dengan TNI, karier beliau menanjak terus sampai berpangkat Mayor Jenderal, bahkan sempat menjadi Rektor IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada tahun 1964-1965.
Telah terbit buku tentang Sang Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945 yang ditulis olen Dr Nidjo Sandjojo M.Sc yang tidak lain adalah menantu termuda dari Pak latief Hendraningrat. Diterbitkan oleh PT Pusataka Sinar harapan.

Saturday, July 30, 2011

Review Tentang Buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Edisi 1992

Halo para pembaca sudah lama saya baru muncul lagi. Maklum disamping banyak tugas, saya juga bingung menuliskan tentang topik yang akan ditulis dalam Blog ini sebab Blog ini bertemakan Sejarah. Dan hari ini barulah saya menemukan topik yang tepat untuk diceritakan kepada para pembaca.

Pada hari ini saya akan menulis tentang sedikit review dalam Buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Edisi 1992 karangan Michael H.Hart dimana banyak sekali perubahan rangking tentang orang-orang yang termasuk dalam daftar ini. Saya akan membahas sedikit tentang perubahan yang terdapat dalam Buku edisi 1992 ini.

Pertama, 3 tokoh komunis yang berpengaruh yakni, Karl Marx. Joseph Stalin dan Lenin turun peringkat jauh sekali bahkan Lenin yang pada edisi 1978 hanya berbeda sedikit dengan peringkat Karl Marx sekarang selisihnya jauh sekali malah sekarang peringkat Lenin dibawah Joseph Stalin. Hal ini pasti sudah tahu bagi para pembaca yang sering mengamati perkembangan sejarah dari tahun ke tahun  atau sering membaca buku Sejarah, Edisi tahun 1978 komunis masih jaya-jaya nya makanya Michael H. Hart menempatkan 
tokoh-tokoh ini masuk dalam peringkat hampir atas(kecuali Stalin).

Sedangkan edisi 1992, Uni Soviet dan komunisme-nya sudah runtuh dan hancur berantakan akibat naiknya presiden demokrastis  Mikhail Gorbachev yang membuat beliau masuk dalam daftar 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Dan akibat ini, Michael H.Hart menata ulang peringkat-peringkatnya dan sebagai dampak peringkat 3 tokoh komunis ini turun drastis.

Juga saya perhatikan masuknya Ernest Rutherford menggantikan Niels Bohr, dan naik drastisnya peringkat John Dalton, penemu atom. Saya sangat mendukung dengan penaikan peringkat ini disebabkan dua tokoh inilah yang menemukan atom dan mengetahui bahwa atom itu mempunyai atom negatif dan positif meski Rutherford belum sempurna. Sedangkan Niels Bohr hanya memperbaiki kesalahan dalam teori Rutherford sehingga dia dihapus dari 100 tokoh edisi 1992 ini, padahal di edisi 1978, dia menempati peringkat ke-100 pas.

Selain itu ada perubahan lain dimana dihapusnya Pablo Picasso dari buku ini alasannya belum terlalu jelas. Tetapi saya mengira itu wajar-wajar saja karena beliau hanyalah seorang pelukis. Juga kenaikan 10 peringkat dari Tokoh penemu Geometri, Euclid juga saya mendukung 100%. Mengapa begitu? Seandainya tidak ada Geometri, bagaimana manusia mau mengukur suatu bangunan, merancang bangunan atau mungkin insinyur perancang bangunan tidak akan ada.

Tetapi saya sangat salut dengan 1 tokoh ini Nabi Muhammad SAW, beliau tidak ada tandingannya di dunia. Prestasi ini hampir disamai oleh Jengis Khan, sayang beliau bukan nabi melainkan hanya seorang raja sehingga pengaruhnya hanya sebentar. Bedanya adalah berbanding 180 derajat. Nabi Muhammad dikenal sebagai orang yang sabar, penyantun, ramah tamah dan sopan terhadap semua orang, meskipun kebanyakan orang-orang non islam mengatakan yang sebaliknya(saya tidak bilang semua begitu).

Sedangkan Jengis Khan sendiri  sudah jelas terkenal di seluruh dunia, di buku sejarah, di komik tokoh dunia dan para pengamat sejarah sebagai orang yang kejam, angkuh, tamak, dan sedikit culas tetapi dangkal pengetahuannya hingga ke keturunannya. Buktinya bisa dilihat ketika pasukan Hulagu Khan (anak Jengis Khan) menyerang Baghdad, Baghdad merupakan kota terbesar Islam di masa itu. Dan disitu pula berbagai macam ilmuwan, para tokoh terkenal, buku-buku lengkap disitu. Padahal Eropa dimasa itu masih berkutat dengan sihir dan hal-hal takhayul lainnya.

Tetapi pasukan Hulagu Khan yang menyerang kota itu dan hasilnya jelas menang telak diakibatkan pada abad itu dibawah kepemimpinan Abbasiyah, ilmu memang lebih berkembang daripada masa dinasti sebelumnya tetapi mereka melupakan di bidang kemiliteran. Akibatnya pasukan Hulagu Khan menang telak dan membantai ribuan rakyat Baghdad. Tetapi ketika saya membaca kelanjutan sejarah dari perang ini, sangat tolol dan terlalu tolol. Mereka justru membuang buku-buku itu kedalam sungai Eufrat sehingga airnya yang semula jernih menjadi hitam akibat terkena buku-buku yang dibuang itu. Seandainya waktu itu Hulagu Khan berpikir lebih jauh, mungkin bangsa Mongol akan bertahan lebih lama. Buku-buku itu bisa dimanfaatkan untuk pembangunan negeri dan kemakmuran rakyat.

Sehabis menguasai Baghdad, mereka menguasai Palestina, tetapi itulah berkat pengetahuan, beberapa tahun kemudian, dinasti Fathimiyah dari Mesir berhasil mengusir bangsa Mongol bahkan mereka berhasil menguasai Baghdad kembali. Sisa pasukan Mongol mundur ke Mogul, India dan akhirnya mereka masuk Islam dan mendirikan kerajaan Islam yang cukup besar disitu. Jadi sekali lagi ingat! kemiliteran dan pengetahuan adalah hal yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Dan harus ada keseimbangan diantara mereka karena jika salah satunya terlupakan, maka contoh diatas anda bisa saksikan sendiri antara kerajaan yang mementingkan pengetahuan dan lebih mementingkan kemiliteran. 

Sebagai bukti Eropa yang pada perang Salib pertama menang, mereka tidak serta merta hanya membantai penduduk Islam dan Yahudi begitu saja, tetapi mereka juga mempelajari pengetahuannya. Dan Renaissance(Masa dimana Eropa menuju kemajuan) muncul juga dipengaruhi oleh Perang Salib ini meski memang mereka kalah 7 kali dari pasukan Islam karena kalah strategi.

Demikian yang dapat saya sampaikan dari Review ini, Mohon maaf bila ada kesalahan dan mohon diberikan saran dan kritik terhadap artikel ini. Tetapi mohon diberikan komentar yang sopan dan tidak memberikan spam-spam yang tidak jelas atau saya akan menghapus komentar tersebut.

Sunday, December 26, 2010

Memperingati Invasi Uni Soviet ke Afghanistan

 Muhammad Aulia Iskandar Muda (Pengamat Sejarah)

Hari ini (27 Desember), 31 tahun yang lalu untuk pertama kalinya secara terbuka pasukan komunis Uni Soviet melakukan invasi ke bumi Afghanistan.

Masuknya pasukan komunis Soviet ke wilayah tersebut pada tanggal 27 Desember 1979 tersebut atas permintaan seorang pejabat dari partai komunis Afghanistan, yang ingin adanya campur tangan militer asing dalam merubah hirarki yang berkuasa pada saat itu.

Uni Soviet pada saat itu memutuskan untuk memberi bantuan kepada Afganistan untuk menjalankan revolusi. Pemimpin Soviet, berdasarkan informasi dari KGB dan sekutunya di Afganistan, merasa presiden Hafizullah Amin telah membuat situasi di Afghanistan tidak stabil. KGB di Kabul sendiri telah memperingatkan orang yang hendak mengkudeta presiden Amin dan pembunuh Taraki (presiden sebelumnya) bahwa kepemimpinan Amin akan menuju ke tindakan "represi kasar".

Soviet mendirikan komisi khusus di Afganistan, atas perintah pemimpin KGB Yuri Andropov, Ponomaryev dari Komite Pusat dan Dmitry Ustinov, Menteri Pertahanan Uni Soviet. Pada akhir Oktober mereka melaporkan bahwa Amin telah membersihkan lawan-lawan politiknya, termasuk para simpatisan Soviet; kesetiannya terhadap Moskow hanyalah bohongan; begitu informasi yang diterima Soviet atas perilaku Amin.

Argumentasi terakhir untuk mengeliminasi Amin adalah informasi yang didapat oleh KGB dari agennya di Kabul, menurut dugaan, dua dari penjaga Amin telah membunuh presiden sebelumnya, Nur Muhammad Taraki dengan menggunakan bantal, dan Amin sendiri diduga adalah agen CIA.

Pada tanggal 22 Desember, penasehat Soviet menasehati kepala Pasukan Bersenjata Afganistan, agar mereka untuk melakukan pemeliharaan tank dan untuk peralatan perang lainnya karena kemungkinan situasi genting terjadi. Sementara itu, hubungan telekomunikasi keluar area Kabul diputus, mengisolasi ibukota itu. Dengan memburuknya situasi keamanan, sebagian besar anggota pasukan Pasung Soviet bergabung dengan pasukan darat di Kabul.

Mengetahui situasi semakian memanas, presiden Hafizullah Amin memindahkan kantor presidennya ke Istana Tajbeg, yang dipercaya bahwa tempat ini lebih aman dari mendapatkan risiko yang mungkin terjadi.

Dan tepat pada tanggal 27 Desember 1979, 700 pasukan Soviet dengan memakai seragam militer Afganistan, termasuk OSNAZ dan 54 pasukan khusus Soviet Spetsnaz dari Grup Alpha dan Grup Zenith, mengambil alih pemerintah, militer dan bangunan-bangunan di Kabul, termasuk merebut target utama mereka - Istana Tajbeg.

Invasi pasukan Soviet menggulingkan pemerintah Afghanistan pada waktu bernama Operasi Badai-333 («Шторм-333»). Operasi ini berhasil dan sukses di mana tentara Soviet berhasil merebut dan memasuki Istana Tajbeg di Afganistan dan membunuh Presiden Hafizullah Amin dan 200 pengawalnya.

Dan sejak tanggal itu (27 Desember) di mulailah babak baru Afghanistan resmi di bawah kekuasaan rezim pro komunis Soviet dan dijajah oleh Uni Soviet.

Tuesday, November 9, 2010

Gunung Merapi Meletus Borobudur Tertutup Debu 2 Cm

JAWA TENGAH, KOMPAS.com — Letusan hebat Gunung Merapi, Jumat pekan lalu, mengakibatkan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, tertutup debu vulkanik setebal 1,5 hingga 2 cm. Ketebalan debu itu adalah ketebalan paling tebal pascapemugaran tahun 1983.
"Ketebalan sekarang yang paling besar," ucap Iskandar M Siregar, Kepala Pelayanan Teknis Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, ketika ditemui Kompas.com di kompleks Borobudur, Selasa (9/11/2010).
Iskandar mengatakan, debu itu merata di seluruh candi seluas 14.161 meter persegi pada bidang-bidang horizontal, seperti lantai, atas stupa, keben, dan ornamen. Adapun pada bidang vertikal, ketebalan debu relatif lebih kecil.
Iskandar juga berharap, candi segera dibersihkan agar debu tidak merusak. Namun, waktu pembersihan masih menunggu informasi terkait letusan Merapi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM.
"Kalau debu didiamkan akan mempercepat kelapukan batu. Debu itu jadi pupuk buat tumbuhan. Debu juga menutup pori-pori batu, lama-kelamaan pasir masuk ke sela-sela batu, terus ke saluran air. Kalau aliran air macet, akan fatal," urainya.
"Paling cepat, pembersihan dilakukan pekan depan. Kami masih memantau info dari Pak Rono (Kepala Pusat Vukanologi Bencana Geologi), akan ada hujan abu lagi atau tidak," ucapnya.
Seluruh bangunan candi, kata dia, sebenarnya sudah dibersihkan setelah letusan Merapi pertama kali pada 26 November 2010. Saat itu, pembersihan memakan waktu tujuh hari oleh 62 orang. "Kemarin itu debunya setebal tiga milimeter. Debu dikumpulkan sampai 56 ember ukuran 10 liter. Gimana sekarang, akan lebih lama lagi," ucap dia.
Kompas.com Selasa, 9 November 2010 | 12:43 WIB
http://regional.kompas.com/read/2010/11/09/12435552/Borobudur.Tertutup.Debu.2.Cm

Candi Borobudur Mulai Dibenahi

JAWA TENGAH, KOMPAS.com - Pengelola Candi Borobudur dan warga di sekitar candi mulai membenahi dampak kerusakan akibat letusan Gunung Merapi Jumat pekan lalu. Meski jarak dengan puncak Merapi relatif jauh, yakni sekitar 40 kilometer, kerusakan hebat juga terjadi di sekitar Borobudur.
Pantauan Kompas.com, Selasa (9/11/2010), puluhan petugas memotong-motong batang pohon yang tumbang di zona II Borobudur seluas 60 hektar dari total 84 hektar. Selain itu, tumpukan debu-debu tebal disingkirkan. Pembersihan debu relatif lebih mudah lantaran hujan yang mengguyur semalam. Hujan membuat debu tidak berterbangan.
Sumardi, salah seorang pengelola Borobudur, mengatakan, saat letusan Merapi pertama kali pada 26 Oktober 2010 , Merapi tetap dibuka untuk umum. Namun, hingga tanggal 27 Oktober, pengunjung hanya diijinkan naik hingga lantai dua candi karena di puncak candi dilakukan pembersihan.
"Tanggal 30 Oktober sampai tanggal 4 Oktober kita buka penuh. Setelah itu letusan hebat. Kita tutup lagi sampai sekarang. Kita belum tahu kapan dibuka lagi," jelas Sumardi ketika ditemui di komplek Candi Borobudur.
Selain di dalam komplek Borobudur, pembersihan juga dilakukan warga di jalan akses masuk ke candi. Ratusan warga bergotong royong memindahkan tumpukan debu dijalanan dengan sekop atau menyemprotkan dengan mesin pompa yang airnya diambil dari tambak-tambak. Ikan dditambak itu telah mati.
Tutupnya Borobudur mengakibatkan kerugian yang relatif besar. Saat hari kerja, kata Sumardi, jumlah pengunjung sekitar 2.000 sampai 2.500 dengan harga tiket masuk Rp 20.000 perorang. Saat akhir pekan, jumlah pengunjung mencapai 10.000-15.000 orang dengan harga tiket Rp 23.000. Untuk turis dikenakan tarif 15 dollar AS.
Kompas.com Selasa, 9 November 2010 | 13:40 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Sandro Gatra
http://regional.kompas.com/read/2010/11/09/1340456/Candi.Borobudur.Mulai.Dibenahi

Thursday, September 30, 2010

Perebutan Kekuasaan Gresik dengan Madura Pada Abad Ke-18 di Benteng Pertahanan Kedungsekar di Benjeng

Pada saat menjelang kemelut antara Gresik dan Madura, Bupati Kasepuhan Gresik bernama Joyonegoro (1732-1748) sedang menghadiri undangan ke Kraton Mataram Islam dengan anggota rombongan yang cukup besar. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Madura yang bernama Cakraningrat IV untuk menduduki Gresik pada tahun 1738 M dengan mengerahkan tentara yang dipimpin oleh Demang Dewa Raga dengan menumpang perahu pada malam hari mendarat di pelabuhan Gresik menuju kota berhasil menduduki pendopo kabupaten Gresik dengan menjarah segala yang ada didalam pendopo termasuk istri-istri bupati dan anak Bupati Joyonegoro yang diboyong ke Madura. Selanjutnya Demang Dewa Raga menyatakan dirinya sebagai penguasa Gresik atas nama Cakraningrat IV maka para sentono (abdi dalem) kabupaten Gresik dipaksa cukur rambutnya dan memakai pakaian adat Madura sebagai tanda tunduk patuh termasuk Kyai Ngabei Puspodirjo, Kyai Ngabei Murtorejo, Kyai Ngabei Surodirjo, Kyai Ngebei Joyodirjo dan Demang Mertojoyo.
Mendengar wilayah kekuasaanya dikuasai oleh orang Madura, maka Bupati Joyonegoro segera kembali ke Gresik bersama Bupati Ponorogo Adipati Suradiningrat, waktu itu Bupati Ponorogo yang juga berada di ibukota Kerajaan Mataram Islam merasa simpati dan memberi bala bantuan tentara pada Gresik, akhirnya sampailah rombongan bupati termasuk para pejabat kabupaten Kyai Ngabei Suronegoro, Kyai NgabeiAstronegoro, Kyai Ngabei Wirodirjo, Kyai Ngabei Ronggopuspoarjo, Kyai Ngabei Yudonegoro, Kyai Ngabei Ronggopuspowijoyo, Kyai Ngabei Puspotaruno sampai di Kedungsekar (atau Dusun Sekaran). Selanjutnya rombongan menyusun kekuatan dengan membentuk benteng pertahanan di Dusun Ngabetan.
Sekitar satu bulan lamanya Bupati Joyonegoro bertahan di Ngabetan keberadaan benteng ini diketahui oleh Dewa Raga penguasa Madura di Gresik tersebut menyerbu markas Bupati Gresik maka korban berjatuhan tidak dapat dihindarkan dalam pertempuran tidak ada yang mengalah sehingga diadakan gencatan senjata. Maka Bupati Joyonegoro dan pasukannya bertahan mundur kembali ke Kedungsekar dan membuat benteng pertahanan di Kedungsekar pula. Sementara itu pihak pasukan Madura membuat persinggahan sementara di Dusun Bogomiring.
Datang balabantuan tentara dari pulau Madura ke Bogomiring setelah merasa kuat meninggalkan benteng pertahanan menuju benteng pertahanan Bupati Joyonegoro di Kedungsekar. Pasukan Gresik yang dibantu pasukan Ponorogo mempertahankan Kedungsekar dari serangan tentara Madura. Ternyata pasukan Madura mengalami kesulitan untuk mendekati benteng Kedungsekar karena disekitar benteng adalah areal persawahan ditambah lagi sungai disekitar persawahan mempersulit gerak pasukan Madura. Ketika pasukan Madura mencoba mendekat ke Kedungsekar pasukan Gresik dengan mudah menghadangnya, akhirnya pasukan Madura memutuskan untuk mengurungkan niatnya merebut benteng Kedungsekar.
Kabar kegagalan pasukan Madura untuk menghancurkan benteng Kedungsekar ini membuat penguasa Madura marah maka segera menambah pasukannya namun demikian Joyonegoro dan pasukannya masih terlalu sulit untuk dikalahkan walaupun dengan jumlah pasukan Gresik tidak lebih sedikit dibanding pasukan Madura.
Penguasa Madura selanjutnya mengumpulkan para hario dan panji yang terkenal sebagai jawara-jawara perang. Demang Dewa Raga yang semula hanya memantau dari jauh jalannya perang diperintahkan oleh Cakraningrat IV agar memimpinin langsung perang sedangkan pasukan tidak diperkenankan meninggalkan medan perang kecuali dalam keadaan sakit dan luka-luka. Para hario dan panji berangkat menuju Kedungsekar namun perang sudah berkobar yang mengakibatkan pasuakan Madura kocar-kacir. Terlambat bantuan para jawara ini berpapasan dengan pasukan Madura yang mengotong mayat temannya dan yang sedang terluka. Dalam situasi perang ini maka Bupati Joyonegoro menyimpulkan bahwa pasukan Madura tidak akan berani lagi untuk menyerang benteng pertahanan Kedungsekar. Maka Joyonegoro mempersilahkan pasukannya Ponorogo untuk pulang ke daerahnya sedangkan beliau siap-siap menuju Gresik.
Dalam kondisi persiapan menuju Gresik ternyata pasukan Madura yang dipimpin langsung Demang Dewa Raga beserta para hario dan para panji kembali menyerbu benteng Kedungsekar. Pertempuran hebat tidak dapat dielakkan namun untuk kesekian kalinya pasukan Madura mundur mundur dari Dusun Kedungsekar.
Bupati Joyonegoro masih menganggap kekuatan pasukan Madura masih sangat kuat untuk dapat dilumpuhkan tentaranya maka Joyonegoro beserta pasukannya yang berada di Kedungsekar itu bertekat untuk mengatur stategi lain dengan meninggalkan benteng menyelusuri arah timur menuju Dusun Pakal (wilayah Kabupaten Surabaya) tidak lama kemudian pindah ke Dusun Sememi.
Selama di Dusun Sememi ini ternyata Bupati Joyonegoro mendapat tawaran dari Kumpeni Belanda (VOC) untuk membantunya dalam upaya mengembalikan kekuasaan bupati yang sekarang pendopo sedang diduduki oleh Demang Dewa Raga atas nama Bupati Madura bernama Cakraningrat IV itu. Atas tawaran VOC ini maka disambut gembira oleh Bupati Joyonegoro dengan menerima tawaran tersebut. Selanjutnya dilakukan persiapan menggempur pasukan Cakraningrat IV oleh pasukan koalisi antara Gresik, pasukan Bupati Surabaya dan pasukan Kumpeni Belanda.
Mendengar kekuatan Bupati Joyonegoro semakin kuat maka Demang Dewa Raga dan prajuritnya panik sehingga banyak diantaranya yang melarikan diri. Pada situasi yang memprihatinkan ini penguasa Madura Cakraningrat IV mengumpulkan para begal dan bajak laut berjumlah sekitar seribu orang untuk diberangkatkan ke Gresik membantu pasukan yang dipimpin Demang Dewa Raga, setelah sampai di alon-alon Gresik mereka berbaur dengan pasukan Madura yang seduh lama bertahan di kota kadipaten Gresik.
Pihak Kumpeni Belanda dibawah pimpinan Kolonel Moestich bersama Bupati Surabaya Tumenggung Sosronegoro menyiapkan dua ribu prajurit untuk membantu Bupati Gresik Joyonegoro. Pasukan Surabaya dipimpin oleh Mas Ngabei Prawirosuroyo sedangkan pasukan Kumpeni Belanda sebanyak tiga peleton dipimpin oleh Kolonel Moestich.
Pasukan koalisi ini berkumpul di Dusun Sememi selanjutnya bergerak ke arah barat menuju Dusun Gantang terus bergerak ke arah utara hingga di Dusun Cerme Kidul ternyata pergerakan ke arah utara pasukan koalisi ini diketahui oleh pasukan musuh melalui informasi dari telik sandi mereka.
Setelah mengetahui pergerakan pasukan koalisi mengarah ke kota Gresik dari arah selatan maka Demang Dewa Raga menggerakkan pasukannya dari kota Gresik menuju Dusun Jambu arah barat dari Dusun Tambak Beras. Terjadilah pertempuran sengit dimedan pertempuran Dusun Cerme Kidul. Situasi pertempuran yang menegangkan ini ditambah lagi dengan pasukan Kumpeni Belanda yang dipimpin Kolonel Moestich menembaki pasukan Madura sehingga banyak diantaranya yang berlumuran darah, pertempuran ini berlangsung hingga menjelang malam hari pasukan Madura terdesak terus menerus hingga mundur kembali di Dusun Jambu. Dalam situasi menguasai medan perang maka pasukan koalisi mengejar terus pasukan Madura hingga bertahan mundur sampai ke Dusun Kembangan. Dalam situasi panik ini Demang Dewa Raga melaporkan kondisi yang memprihatinkan tersebut kepada atasannya di Madura yaitu Cakraningrat IV dengan harapan agar berkenan mengirim bantuan lagi pasukan dari Madura.
Sementara menunggu bantuan tentara dari Madura pasukan Dewa Raga diserbu pasukan Koalisi yang sudah sampai di Dusun Kembangan. Dalam penyerbuan ini mengakibatkan Demang Dewa Raga tewas terbunuh sehingga pasukan Madura mundur melarikan dari dari medan perang Kembangan menuju ke alon-alon Gresik yang selanjutnya menuju pelabuhan untuk pulang kembali ke Madura.
Mundurnya pasukan Cakraningrat IV hingga ke pelabuhan maka pendopo Bupati Gresik kembali ke pangkuan Bupati Joyonegoro, setelah banyak keterlibatan pasukan Kumpeni Belanda maka beberapa pejabat penting VOC atau Kumpeni Belanda mulai banyak yang berkunjung ke Gresik kota dagang terkenal ini yang telah lama ingin dikunjungi oleh Belanda.